NOW AVAILABLE! "DIALOG BISU"

Kamis, 09 Januari 2014

Aku dan Cerita Nopember

Pantai Ngliyep, Kabupaten Malang, 2014

Sudah Nopember. Hujan sudah cukup lama datang saling sambut dengan riuh suara roda gerbong komuter berdecit pada besi-besi tua yang melintang. Pun aku sudah cukup lama tak menumpahkannya lagi pada tuts mesin ketik, menumpahkan ragam rasa yang tiga tahun sebelumnya kurangkum rapi dalam buku cerita.
Ini Nopember, yang banyak orang bersikeras menuliskannya November dalam bahasa Indonesia. Tentang sebuah waktu saat gerimis mulai risih disebut gerimis padahal disebut hujan pun ia tak. Bahkan disebut badai sekalipun semakin tak. Gerimis tiap pagi mulai dan cukup mengganggu dengan membangunkan aku yang semalam menghabiskan dua setengah ronde dengan istriku. Mungkin logis jika aku belum ingin terjaga. Ini sudah Nopember.

Kemudian malam masih syahdu dengan untaian riuh gerimis kecil yang bergemericik ringan di antara permukaan waduk. Dinding reyot dan atap kayu triplek di rumahku tak cukup tangguh meredam suara merdu tadi. Senja sudah jatuh, lalu malam dan suasananya memaksa aku berdekap rindu di ranjang berbesi tipis dengan istriku.
Sudah tiga tahun yang lalu, anak kami satu-satunya pergi dan aku belum tahu harus menemukan di mana. Sudah tepat tiga tahun, di bulan Nopember. Anak yang kujadikan sebagai mimpi-mimpiku, kutaruh hasil khayalanku. Setidaknya aku tetap selalu berdoa akan menemuinya dalam keadaan sukses kelak tanpa berakhir bak si Malin. Istriku kadang mengamininya sambil mengantuk.
Biasanya, tengah malam gerimis semakin hilang. Tak serta merta lenyap kemudian berganti kabut beku dan membisikkan perintah, “Peluk suamimu!” kepada istriku. Biasanya, ini yang mengawali kami. Ya, meskipun tak hanya di bulan Nopember. Tapi aku masih menunggu, aku dan ceritaku selama tiga puluh hari sebelum Desember. Cerita-ceritaku di bulan Nopember.

(Fahmi Rachman Ibrahim, 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar