NOW AVAILABLE! "DIALOG BISU"

Minggu, 12 Januari 2014

Hujan di Januari Sore

Hujan tidak sehebat dulu saat aku menggilai. Bahkan saat ia mulai dihujat khalayak dengan beruntun dan aku turut di antaranya. Aku ada di barisan depan meneriakkan untuk berhenti karena hujan mulai sangat mengganggu. Buktikan, di kehidupan ibukota, jarang sekali orang-orang bekerja dengan hujan. Mayoritas ia sama sekali tak bersinergi dengan keseharian semua umat. Sudah semakin sulit menemukan logika bahwa aku pernah menyukainya bahkan tak separah aku membencinya saat ini.
Seperti sore ini, di kedai makan kecil ketika senja mulai menjelang. Langit berbalut gerimis cerah mengiringi buruh-buruh kehidupan yang serempak namun tetap berebut siapa dulu yang sampai rumah dan jumpa istri anak masing-masing. Sesekali terlihat pria muda kuyup tergesa hampir celaka meliuk lincah menyalip kendara demi kendara. Mungkin sudah ereksi dan tak tahan. Mungkin pengantin baru.

Lalu kamu bertanya, aku sedang apa? Aku ada di antara mereka. Hanya saja sedikit tak lebih penting, hanya duduk santai sembari menyelesaikan sarapanku yang terlambat berjam-jam. Aku melihat jauh menelusur ke jalan-jalan tempat para pengendara usai kuyup sambil menebak ringan apa pekerjaan mereka dan seperti apa istrinya. Bukan ingin berfantasi nakal istri orang sepertimu, hanya ingin tahu seberapa hebatnya istri mereka yang memberdirikan mereka hingga tetap gigih berburuh-buruh.
Mereka benar terlihat suntuk dan bosan menghadapi rutinitas yang monoton. Pikirku dalam kesimpulan subjektifku, mereka bosan sebosanku pada hujan sore ini, yang kebetulan hujan di awal Januari yang sudah sering mengecewakan kolega-kolegaku. Jangan tanya kenapa, tapi kujawab, hujan tak pernah kusuka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar