NOW AVAILABLE! "DIALOG BISU"

Jumat, 10 Januari 2014

Desember Tidak Jahat

Aku bukan tak suka Desember, tapi Desember selalu menarik urat tertawaku, kemudian menyembunyikannya di balik senja yang salah satu adikku pernah tak suka tentangnya. Dia di tahun lalu melancarkan senyumku, dan mungkin terlalu lancar hingga meluncur terlalu licin. Terlalu licin dan terlalu remeh dan akhirnya dilecehkan. Diinjak. Ditusuk. Kemudian aku diam.
Desember bukan jahat. Dia hanya sedang tak suka dengan aku yang tersenyum sumringah. Desember pagi ini masih pekat selegam air muntah para penjajah. Tetibanya ada pesan di kotak surat yang menyuruhku membawakan sekotak bekal makan siang berisi elegi dan segala kenangan apapun.

Desember sedang jahat padaku. Dia memaksaku menelan banyak pil dopping lagi agar tetap tegak ditebas pikiran demi pikiran tentang keadaan yang dulu jadi tempatku berkontra. Aku tetap dipaksa dan berpikir untuk peduli. Sebuah kepedulian simalakama yang akhirnya jadi pedang kecil sebagai kado di luar hari lahirku. Pedang ini kemudian kupakai membersihkan berbagai tanaman liar.
Dengan Desember lalu aku menyapa, melewati lorong-lorong yang sedang gulita dan penuh asap bak tempat tinggal penyamun. Sebenarnya, Desember tidak jahat. Untungnya, ada kamu. 

(Fahmi Rachman Ibrahim, 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar