NOW AVAILABLE! "DIALOG BISU"

Selasa, 14 Januari 2014

Aku Tak Suka Hujan

Siang itu sengaja kubangunkan kesadaranku tak sepagi biasanya. Dan sialnya, hujan dan hujan lagi seperti lima hari yang lalu sebelum aku datang ke sini. Lima hari yang lalu, hujan datang tujuh kali duapuluh empat jam nonstop dan menghiasi jalanan desa dengan lempung-lempung cokelat muda hasil tanah yang basah secara rutin. Lempung-lempung itu rupanya tak hanya mengaliri jalanan becek yang masih minim aspal di desa ini, namun terlalu parah hingga serta-merta mengeruhkan air laut dan sesekali membawa sampah yang terseret sampai ke pesisir pantai. Suasana lima hari yang lalu mampu kugambarkan secara klise menurut kabar yang kudengar dari beberapa penduduk lokal.
Pantai Ngliyep, Kabupaten Malang, 2014


Beruntungnya aku, hingga aku tiba lima hari setelahnya, tak sedetikpun hujan mampir ke desa ini. Tepat saat aku datang, air di sungai-sungai sampai ke pesisir dan laut juga turut terbersihkan. Ini yang sempat kupikirkan; bedanya kita dengan Tuhan adalah Tuhan mampu membersihkan air sebesar laut tanpa menggunakan alat apapun, hanya membuatnya dengan fenomena alam. Sederhana memang, namun yang terjadi memang seperti itu dan begitu sempurna.
Batu karang, pasir halus sempurna, lumut pada bebatuan di pesisir, koral berwarna-warni, bulu babi yang bersembunyi di antara batu-batu kecil, semua terekspos dengan sederhana namun begitu sempurna di mataku ketika siang itu kuputuskan untuk berkeliaran menikmati pesisir yang terlalu sepi ini. Iya, heranku adalah pantai secantik ini namun orang tak begitu suka bermain di sini, dan memilih menghabiskan upah mereka (bahkan orang tua mereka) di tempat-tempat pemasaran, karaoke, kedai makanan orang kaya, departement store, hingga kolam renang berbayar dengan kualitas bintang lima. Aneh saja, di sini semuanya ada. Tak sesempurna tempat-tempat yang kusebutkan tadi memang, namun aku menemukan kesegaran dan kebugaran pikiran di sini. Relatif sepi. Dan, bukankah bahagia itu sederhana? Setidaknya itu yang sering kutemui dan kudengarkan. Di sini, kudapatkan yang kumau.
Iya, aku belajar mencintai pantai, pesisir, laut, dan kehidupan pedesaan. Hidup yang rupanya cukup sulit memang, dengan keadaan seperlunya dan seadanya. Sinyal seluler pun tak semudah di kota, bahkan hampir tak pernah ada. Namun itu maksudku. Kuhindari keseharianku yang disibukkan rapat dan rapat, paper dan paper, teriakan-teriakan bos, dan segala kesibukan yang membosankan. Aku yakin di sini bosku tak akan menemukanku. Tapi maafkan aku, hujan. Aku ternyata mencintai lanksap senja dan fajar di pantai. Aku gila dalam kediaman matahari terbenam dan hanyut dalam suara-suara air laut yang menyeret kenangan hingga ke pesisir. Aku mencintai pantai. Aku sudah tak suka pada hujan, ternyata.

(Fahmi Rachman Ibrahim, 2014)

1 komentar: