NOW AVAILABLE! "DIALOG BISU"

Senin, 29 April 2013

Sudah Cukup Membantu?



Hai, sayang! Iya, ini aku. Aku yang biasanya mengangkat tirai untuk memudahkanmu menutup pintumu. Kamu sulit meraihnya, kan? Iya, aku bisa bantu sebelum akhirnya kita berangkat dan kamu menutup pintu lalu menguncinya rapat-rapat bak seorang penggalau yang mematahkan hatinya sendiri dan sedang dalam proses move on padahal yang terjadi sebenarnya dia kesulitan move on. Rumit, ya? Sayangku tak serumit itu ke kamu.
Iya, ini aku. Aku yang biasanya membukakan kaleng sarden sebelum akhirnya kamu yang memasukkannya ke penggorengan dan memastikannya segera masak. Menambahkan bawang merah dan putih, garam dan gula secukupnya, memastikan tak terlalu banyak menuang air, menumis dengan api yang relatif sedang demi kemasakan yang sempurna, menjaga agar ikan tetap segar sampai muncul aroma khas sarden. Memang perfeksionis. Sayangku ke kamu sedang kuusahakan sesempurna itu.

Aku ini juga aku yang memindahkan kantong sampah dari dapur ke tong sampah di depan halaman rumah. Perempuan memang multi-tasking, namun tak sehebat itu bisa memasak sembari membuang kantong sampah ke luar rumah lalu memasang kantong sampah yang baru dan lagi-lagi memastikan tak ada sampah kecil satupun yang tersisa di sekitar dapur agar tak ada aroma busuk seperti seorang mantan kekasih yang tiba-tiba muncul menyapa kembali setelah berkali-kali meminta sendiri untuk memisahkan diri dari hubungan. Aku sayang ke kamunya bisa kupastikan bersih tanpa ada sisa sampah yang akan mengotori hati kita.
Kamu juga tahu, aku yang mengganti bohlam kamar mandi tempat aku biasa mengambil air wudhu sebelum kita sholat berjamaah di ruang kecil di samping dapur. Tangga lipatmu tinggi besar. Badanku tak lebih kekar darinya meskipun kamu sering berbisik, “Aku kecil, kamu tinggi.” Bohlam yang mati awalnya kuning, bohlam yang diganti adalah putih. Seperti tak yakin aku bisa menjangkaunya meskipun tangga lipat dan akunya sudah cukup meyakinkan tingkat ketinggiannya, dan kamu memang benar aku akan bisa menggapainya. Kamu yakin kita akan bisa seperti ini tahun depan, tahun depannya lagi, dan beberapa tahun ke depannya lagi. Seterusnya begitu.
Aku lalu seperti menghilang dari sejak dialog semalaman penuh di teras lantai satu ketika kamu tinggalkan ruang 211. Katamu, aku seperti berubah atau tidak ada aku sama sekali yang kamu tahu, bukan kamu kenal, karena memang kita belum pernah berkenalan secara resmi seperti berkata, “Hai, aku Cinderella. Kamu siapa?” Tapi memang yang ada saat ini bukan aku yang saat itu. Berubah? Bukan, kamu paham tak pernah ada perubahan. Inilah yang sebenarnya, aku. Bukan berubah katamu, tapi ketahuan sifat aslinya.
Jadi ada yang ingin kutanyakan, “Masih mau menyimpan potongan daun pohon cemara putih hingga Desember mendatang dan seterusnya lalu saling menunjukkannya?”

1 komentar: