Minggu, 07 September 2014
Selamat Malam, Kota Surabaya!
Senin, 18 Februari 2013
Aku Benci Hujan, Sendirian
![]() |
| Beauty of Goa Cina Beach (Part 2), Malang, Indonesia (Model by: Najelina Ruth Jessica S.) |
Rabu, 26 Desember 2012
Mayat Hidup
Selamat pagi, Embun. Cukup lama aku tak menyapamu, mungkin memang lama. Aku sedang sakit dan mungkin memang sedang kritis, aku terancam kehilangan beberapa organ tubuh vitalku; pandanganku mulai kabur dan tak lagi tajam, dokter bilang aku harus mencabut salah satu mataku atau kanker menjalar ke otak lalu aku menjadi mayat hidup; dokter bilang aku sedikit mati rasa, tak bisa lagi merasakan kesensitifan yang digadang-gadang oleh zodiakku sendiri bahwa aku adalah perasa ulung, aku harus mencabut satu-satunya hatiku; aku bahkan hampir tak bisa berpikir sempurna dan kehilangan daya abstraksi padahal ini adalah nilai tertinggi di tes IQ, iya, aku punya daya abstraksi yang terlampau tinggi dan itu hampir mati sekarang, dokter bilang aku harus memusnahkan otakku.
Minggu, 28 Oktober 2012
Sajak Hujan
![]() |
| "Aku sudah pulang, Hujan.." |
Sabtu, 27 Oktober 2012
Sedang Bermimpi
![]() |
| Lalu muncul album re-arrangement ini |
Rabu, 08 Agustus 2012
Hedonisme Palsu
![]() |
| Indra - Fahmi - Rochmad - Frizda - Didin Kedai 27 (Burger Buto), Malang - August 5th, 2012 |
Selasa, 31 Juli 2012
Selamat tinggal, Julyus Mariokust
Minggu, 29 Juli 2012
Malam #random
Selasa, 10 Juli 2012
Aku (Masih) Mencari Aku
Senin, 09 Juli 2012
(Bukan) Laki-laki Berkacamata
Minggu, 01 Juli 2012
Komersial Eksklusif
Kamis, 10 Mei 2012
Kolaps (Peluk Aku)
Kamis, 01 Maret 2012
Random
Minggu, 26 Februari 2012
Malam Itu Benci
Those are the dew in the midnight, cross over the night city park
You couldn’t find what do you need by your breathin’ in the deep ocean
I’m freezing
Di antara sampah-sampah kota yang katamu tak suka kau lihat, berserakan tak karuan
Lalu pada punkers yang menggodamu saat kau berjalan di tempat yang kauanggap karpet merah
Saat itu yang kaugerutukan adalah salah jalan yang aku pilih, nyatanya kau telah percayakan aku sebagai pemilih jalan kita
Dan di bawah kulit terdapat bekuan kabut duapuluhenam derajat tanpa helai rindu sekalipun
Aku tetap tegak, ya setidaknya kau dorong aku untuk tetap bertahan berdiri
Mata itu lagi
Yang selalu aku agungkan di awal pertemuan itu
Di awal aku mulai membenci malam yang katamu aku bodoh
Yang patut kubenci harusnya pagi, karena pagi yang memisahkan kenangan luar biasa di malam hari
Lalu sekarang, sudah paham bagaimana aku membenci malam?
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)
Sabtu, 28 Januari 2012
Cemburu
Ini apa? Aku kehilangan sinarmu malam ini, bulan. Atau karena kamu hanya datang menyabit mendung yang beberapa hari ini sengaja menguasai kerajaan angin. Sedikit kaget, sekitar empat puluh kilometer per jam! Aku terhuyung ke sana ke mari sama seperti saat pemikiranku terarus pada mata air. Aku tak suka menjadi lebih baik dari yang buruk. Ya, aku hanya akan mencintai jika aku menjadi yang terbaik di antara yang lebih baik.
Aku hanya ingin berdiri di antara gusaran debu yang di bawa angin sore ini, ah aku bosan jika hanya bisa memendam rasa pada tanah liat. Kukira tak akan tumbuh meski beberapa hari ini hujan masih turun, meski beberapa waktu terjadi pancaroba sesaat antara panas dan gerimis. Ini apa?
Aku mulai letih ketika mata tak terbendung lagi oleh secangkir, dua cangkir kopi hitam seperti biasa. Aku rindu pada malam itu, ketika kubasuh wajah dengan butiran lembut yang menghitam legam pada malam. Aku cemburu pada bulan yang beberapa hari ini berkuasa tanpa bintang dan lainnya. Aku sedikit tertampar oleh suasana hati yang terdengar risau.
Ini apa? Aku kepada jumlah tetesan darah yang sengaja juga kusayat sore itu. Aku ingin bertanya pada senja, sedang apa dia di sana? Tidurkah? Siapa yang memeluknya di antara dingin matahari malam? Bukankah harusnya aku yang memakan gelap ketika peluru menghunus mata dan mengecup keningmu?
Sayang, aku cemburu.
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)
Kamis, 26 Januari 2012
Limbah
Sudah beberapa menit sejak aku terinjak ketika aku sedikit tersesak
Ya, sedikit tersesak kataku karena aku tak mampu membuai pagi selayak saat pertama aku tiba
Tak mampu mengindahkan nada pada genting hening malam kosong
Aku hanya ingin berkisah tentang aku lagi, bukan siapapun lagi, bukan tentang peran kedua atau ketiga, namun peran pertama yang kusebut aku
Pada gumpalan maya menatap lantun krusial gundah, lalu aku terpaku, sendu, seperti jingga
Bukan tentang senja! Sudah kujelaskan, bukan, ini hanya tentang aku
Tentang aku yang sedang memilukan jengah pada nusa
Lalu menghempas hela karena duka, aku terpuruk pada elegi fajar!
Ego yang tertanam lalu tersesak hingga meletup-letup kepada butir gemetar
Sudah cukup yang tertanam, lalu menguak tumbuh mengeroyak memecah lapisan gersang yang memaksa amarah
Bisakah aku belajar memakan rerumput fana yang nyatanya rumit?
Ah, aku hanya terpuruk di antara kubangan tambak keruh yang kupinjam dari saudagar sebelah
Nyatanya yang terhirup hanya nitrogen-nitrogen bekas limbah pendustaan kelam, yang memang sengaja kuolah (maksudnya kupaksa, ya, sedikit penekanan) agar terlihat lebih kumuh
Sudahlah, kepada cermin yang kulihat saat ini, kau munafik!
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)
Sabtu, 07 Januari 2012
Refleksi Infeksi
Aku terinfeksi. Pada darah yang tak lagi merah, pada hujan yang tak lagi deras menghitam angan. Pada mimpi yang tak lagi pecah, pada angin yang tak lagi sepoi. Ini adalah refleksi sumber air yang ia kembalikan pada malam. Senja? Ia tetap berkutat pada sepi, menyusuri langkahku dari balik kaki-kaki patah yang sengaja kuseret. Sebenarnya, aku hanya berbohong. Tak kukatakan padanya bahwa kuhaus atas terik ini, aku hanya ingin bungkam sekali lagi. Iya, ini seperti yang kubaca darinya. Ini refleksi darinya. Ini cermin yang aku bayangkan, sengaja kutekan tombol print screen pada cermin itu, agar refleksinya berhenti, abadi, meskipun aku tengah berpindah jarak. Aku hanya ingin bayangan itu tetap di sana. Konstan.
+(Copy).jpg)



.jpg)

