NOW AVAILABLE! "DIALOG BISU"

Tampilkan postingan dengan label fajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fajar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 September 2014

Sepenggal Elegi


Sampai juga akhirnya di ujung gang panjang ini. Luar biasa memang rasanya. Lelah, lega, puas, “akhirnya”, dan mungkin, sedikit bangga. Ya meskipun harusnya ada satu rasa bahagia ketika akhirnya sampai di ujung perjalanan panjang ini, tapi memang belum muncul juga rasa itu.
Sudah pagi. Tapi aku merasa masih gelap, dan, udara juga masih pengap. Meski begitu, rasaku sudah mati karena sepertinya ini bukanlah pagi. Ini adalah sebuah elegi. Kira-kira seperti itu yang kaugambarkan di dalam petikan lagumu, sebuah lagu yang kemudian banyak dirasa merefleksikan rasa beberapa orang. Sebuah lagu yang entah disengaja atau tidak dibuatnya, tapi akhirnya sedikit “meledak” di hati penggemarmu, iya, kamu memang idola.
Lagu itu kemudian kuputar-ulang, mungkin saat aku menulis ini, sudah terulang tujuh kali, atau delapan kali. Saat ini aku sedang depresi, menyusur kota mati dengan mobil tua dan sisa bensin yang tak lagi banyak, dengan iringan lagumu. Hanya lagumu. Aku tak punya banyak stok lagu karena memang aku tak suka musik. Musikmulah yang bisa kugilai. Terima kasih, ngomong-ngomong.

Selasa, 28 Januari 2014

Bapakmu Cinta Aku, Le!

Sambil memakan potongan-potongan nangka yang ditanamnya sendiri di tanah belakang rumah yang beberapa orang percaya itu bekas salah satu pertempuran jaman penjajahan Belanda, ia membawa bayinya ke depan balkon setelah memandikannya. Sekitar pukul tujuh waktu bagian pagi, matahari yang masih relatif hangat kemudian siap menyehatkan bayinya. Iya, jam segini saatnya bayi untuk caring. Lewat obrolan dengan suara lirihnya, ia tetap mengajak mengobrol bayinya meskipun mustahil akan dijawab atau minimal direspon. Sesekali ia selipkan nama bayinya di tengah obrolannya sambil berharap kelak bayinya akan bisa menghafal namanya yang sedikit panjang dan cukup rumit.

Minggu, 05 Agustus 2012

Tahun Kedelapan Tanpa Huruf Kedelapan

House Of Sampoerna - Surabaya (June 6th, 2010)

Masih dingin memang. Dan mungkin juga terlalu absurd untuk memulai menulis lagi, apalagi tentang seseorang yang posisinya sudah sangat absurd dalam hati. Harapannya tak ada sudut pandang ke-berapa-pun di tulisan ini nantinya, iya, biar semua bisa menempatkan di posisinya masing-masing.
Jadi, ini tentang cerita lama. Mungkin telah hampir basi ketika berulang-ulang ditulis tentang ini, tentang kerinduan yang telah pecah seperti genangan air yang tenang lalu dilindas begitu saja oleh roda TransJakarta yang kemudian menjadi bergejolak. Basi sekali. Sekitar hampir tujuh tahun silam. Lalu tak pernah menyangka ketika sebuah sarang lebah produsen madu terhunus panah dan terkulai kempis di atas tanah, mungkin hampir bisa tergambarkan seperti itu. Ah, terlalu cepat. Tunggu, sedikit diperlambat mungkin akan lebih baik.

Rabu, 18 Juli 2012

Pagi Ini Gerimis

"They fall in love"
Selamat pagi. Ya, kurasa itu cukup bagus untuk standardisasi sapaan pagi hari. Ini memang sudah pagi, namun masih terlihat gelap.
Kupaksa bangun lalu bergegas membasuh semuanya, tak sangka pagi buta ini hujan, gerimis.
Ah, aku rindu saat ini, hujan ini yang lama tak kulalui meski dulu sering kumaki tiap kali ia datang. Beragam alasanku, kesal karena mengotori sepeda onthel tuaku yang baru kubasuh, membasahi jemuranku, ah banyak.
Aku rindu. Entah, harus kutulis apa lagi pagi ini. Mungkin memang ini pagi yang sama, pasca semalam yang panjang dan melelahkan, hmm, sejujurnya menyakitkan.
Entah mungkin aku kini mulai bangun, aku bangun dan aku kembali seiring gerimis super ringan pagi ini.
Ya, mungkin memang aku baru bangun (lagi) setelah aku mati, bukan tidur.
Selamat datang (lagi), Pagi. Selamat datang (lagi), Gerimis.

(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Selasa, 10 Juli 2012

Aku (Masih) Mencari Aku

Malam ini masih sepi.
Masih duduk di antara sunyi-sunyi yang bertolak mesra bersama angin riuh yang datang malam ini.
Lebih kaku dari sebuah jurnal hitam berisi barisan antologi-antologi kegagalan, bukan, itu kumpulan keletihan.
Padahal di antaraku terdengar pecah tawa mantan-mantan orang-orang bodoh yang dulu aku pun ikut dalam kebodohannya.
Yang kutanam masih sepi, ini apa? Malam?
Jujur, ketika kutelusuri jalanan fana berlatar belakang rimba, yang kulihat adalah fatamorgana.

Sabtu, 07 Juli 2012

Selamat Datang Duapuluh - #SuperSe7en




Baiklah. Duapuluh, dan ini sudah tua.
Itu cukup untuk mengawali semuanya.
Sudah berapa banyak dosa yang terkumpul?
Bagaimana, siapkah memakan najis-najis serta beribu noda yang tertikam dengan sengaja?
Ini sudah renta, cukup dikatakan karena telah berkepala dua. DUA, tidak, aku hanya menegaskan.
Kau pikir, duapuluh adalah tentang kebebasan minum-minum karena telah busuk?
Tak semudah itu, bodoh. Angkamu semakin senja, tidak berarti semakin bebas memakainya untuk masuk ke bar-bar dan menjajakan birahimu untuk pekerja seks itu.
Iya, yang harusnya terjadi adalah kausimpan angka tuamu untuk berdoa, semoga angkamu semakin diberkahi.
Hahaha, kau pasti berakting, ini bukan dirimu!
Segera, segeralah bangkit dari selimut merahmu!
Ini sudah pagi, sudah duapuluh tahun.
Sudah. Sudah. Tak seburuk itu.
Mari memulainya lagi seperti aku memulainya dari nol, meskipun ini sudah duapuluh.
Masih tentang angka tujuh itu.

#SuperSe7en

(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Senin, 30 April 2012

Geregetan

dan..

H  A  S  H  !


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Fals


Pagi
Masih setengah nyawa yang terkumpul
Ini sudah pagi
Seperti yang pernah kutulis beberapa jam yang lalu, pagi
Sudah sedikit naik ke penjuru langit-langit setelah aku tunaikan sholat subuh
Ini masih pagi
Aku hirup semuanya, semua spirit yang mungkin aku rasakan karena ini sudah pagi
Aku sedang rindu
Kepada dia yang sering kusebut embun dan embun
Di sini tak kutemuinya, panas, lembab, dan seperti asing meski harusnya familier
Aku rindu dia
Kepada dia yang kunamai embun
Kepada dia yang kuanalogikan embun
Embun
Bukan batu kapur

Pernah kuminum secangkir kopi hitam (seperti biasa) buatan ibu tadi malam
Iya, harusnya itu yang kupakai untuk begadang dan mengerjakan tugas negara
Nyatanya terabaikan hingga pagi ini
Rasanya sudah beda
Pagi
Ini sudah pagi
Ini masih tentang pagi, seperti yang pernah kutuliskan saat itu
Tentang rinduku pada embun
Embun
Bukan batu kapur

(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Kamis, 26 Januari 2012

Limbah

Sudah beberapa menit sejak aku terinjak ketika aku sedikit tersesak

Ya, sedikit tersesak kataku karena aku tak mampu membuai pagi selayak saat pertama aku tiba

Tak mampu mengindahkan nada pada genting hening malam kosong

Aku hanya ingin berkisah tentang aku lagi, bukan siapapun lagi, bukan tentang peran kedua atau ketiga, namun peran pertama yang kusebut aku

Pada gumpalan maya menatap lantun krusial gundah, lalu aku terpaku, sendu, seperti jingga


Bukan tentang senja! Sudah kujelaskan, bukan, ini hanya tentang aku

Tentang aku yang sedang memilukan jengah pada nusa

Lalu menghempas hela karena duka, aku terpuruk pada elegi fajar!

Ego yang tertanam lalu tersesak hingga meletup-letup kepada butir gemetar

Sudah cukup yang tertanam, lalu menguak tumbuh mengeroyak memecah lapisan gersang yang memaksa amarah

Bisakah aku belajar memakan rerumput fana yang nyatanya rumit?


Ah, aku hanya terpuruk di antara kubangan tambak keruh yang kupinjam dari saudagar sebelah

Nyatanya yang terhirup hanya nitrogen-nitrogen bekas limbah pendustaan kelam, yang memang sengaja kuolah (maksudnya kupaksa, ya, sedikit penekanan) agar terlihat lebih kumuh

Sudahlah, kepada cermin yang kulihat saat ini, kau munafik!


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)