NOW AVAILABLE! "DIALOG BISU"

Tampilkan postingan dengan label bulan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bulan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Juli 2012

Komersial Eksklusif


Sudah sejak lama telah kutinggalkan jejak terakhirku di sudut kebun palem itu,
sejak segala intervensi mulai bereproduksi hingga beribu mata pun kaki tak bergeming untuk dihina
Mana malamku?
Atau, ini pagimu yang kaujanjikan indah itu?
Ah seperti sesuap nasi yang kuteguk di bawah sukun duabelas jam yang lalu,
semuanya lenyap
Pagimu, malamku, mataharimu, bulanku, embunmu, bintangku
Tak ada lagi yang sesuai

Sabtu, 28 Januari 2012

Cemburu

Ini apa? Aku kehilangan sinarmu malam ini, bulan. Atau karena kamu hanya datang menyabit mendung yang beberapa hari ini sengaja menguasai kerajaan angin. Sedikit kaget, sekitar empat puluh kilometer per jam! Aku terhuyung ke sana ke mari sama seperti saat pemikiranku terarus pada mata air. Aku tak suka menjadi lebih baik dari yang buruk. Ya, aku hanya akan mencintai jika aku menjadi yang terbaik di antara yang lebih baik.

Aku hanya ingin berdiri di antara gusaran debu yang di bawa angin sore ini, ah aku bosan jika hanya bisa memendam rasa pada tanah liat. Kukira tak akan tumbuh meski beberapa hari ini hujan masih turun, meski beberapa waktu terjadi pancaroba sesaat antara panas dan gerimis. Ini apa?

Aku mulai letih ketika mata tak terbendung lagi oleh secangkir, dua cangkir kopi hitam seperti biasa. Aku rindu pada malam itu, ketika kubasuh wajah dengan butiran lembut yang menghitam legam pada malam. Aku cemburu pada bulan yang beberapa hari ini berkuasa tanpa bintang dan lainnya. Aku sedikit tertampar oleh suasana hati yang terdengar risau.

Ini apa? Aku kepada jumlah tetesan darah yang sengaja juga kusayat sore itu. Aku ingin bertanya pada senja, sedang apa dia di sana? Tidurkah? Siapa yang memeluknya di antara dingin matahari malam? Bukankah harusnya aku yang memakan gelap ketika peluru menghunus mata dan mengecup keningmu?

Sayang, aku cemburu.


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Sabtu, 09 April 2011

Supermoon


Malam itu mereka menanti sebuah fenomena.
Mungkin cantik bagi mereka, dan sangat dipuja oleh khalayak tanpa berpola pandang.
Benda angkasa pun siap terbunuh oleh popularitas datangnya, mungkin akan sedikit (atau mungkin banyak) menguras emosi untuk cemburu buta.
Bersiap menghunus pedang kedzaliman agar saling bertahan, yang mereka sebut seleksi alam, ya, yang kuatlah yang menang, dan raja.
Masih terdiam lalu menunggu, mereka bertengadah pukul tujuh petang.
Hujan merintik, dan mereka kecewa karena bintang tak tertangkap kasat mata dan yang mereka tunggu tak akan datang.

Rabu, 27 Oktober 2010

Aku Datang Karena Mereka Butuh

Awan bertanya pada matahari, “Bolehkah aku mengajak hujan bermain bersamaku?” Dan matahari menjawab dengan tegas, “Belum waktunya. Sekarang waktu masih milikku.”
Awan berpikir, “Ya, matahari memang raja di siang hari. Dan aku selalu hanya terdiam, karena hanya ia yang berkuasa.”
Awan berkata pada hujan, “Hei, aku ingin bermain bersamamu. Namun matahari berkehendak lain. Ia berpikir, siang hari adalah miliknya.” Dengan tenang hujan pun menjawab, “Masih ada waktu.”
Malam hari, awan bertanya pada bulan, “Bolehkah aku memanggil hujan? Aku ingin bermain dengannya.” Bulan pun menjawab, “Kupikir, ini saatnya aku berdiri seorang diri di atas langit. Bukan begitu?”

Wanita Berkerudung Ungu

Kulihat, bulan tertunduk sepi. Lalu sesaat ia berkata tanpa kutanya, "Aku hanya ingin teman". Aku pun menjawab dalam batin, coba kau panggil seorang kawan. Dan bulan mengerti apa yang kupikirkan. Ia memanggil hujan untuk menemaninya.
Hujan pun datang membawa dingin, menyapa, "Hai bulan, kau sendiri rupanya". Bulan menjawab dengan senyuman. Hujan memang datang menemani bulan, namun bulan tak tahu bahwa hujan telah membuat orang-orang menggigil kedinginan di malam hari. Bulan juga tak tahu, banyak makhluk resah karena hujan di malam hari. Mungkin egois, namun bulan terlambat untuk menyadarinya.
Aku pun begitu. Kurasakan malam begitu sepi, kutenggelam dalam kegelapan. Dingin pun senantiasa datang seakan mencambuk kulit. Di kejauhan kulihat seberkas cahaya bintang, menerangimu. Ungu, yang kulihat. Kusipitkan kelopak mataku, ya, berkerudung ungu.
Sesaat wajah itu melengok, tersenyum, dan mulai menghilang. Tak mau ditemani sepi, kukejar wanita itu. Aku mendekat, dan cahaya itu semakin terang. Pikirku, kau tak akan menjadi hujan, yang menemaniku, namun merugikan yang lain.
Wanita berkerudung ungu, dan itu kau.

(Fahmi Rachman Ibrahim, 2010)

Bukan Aku atau Kau, namun Kita

Mungkin hujan berkata aku, dan ia berkata kau pada awan.
Mungkin matahari berkata aku, dan ia berkata kau pada bulan.
Mereka tak pernah paham, apa arti aku dan kau, karena mereka bukan kita.
Mereka tak pernah mengerti, apa arti aku dan kau, karena mereka tak seperti kita.