Senin, 29 April 2013
Sudah Cukup Membantu?
Rabu, 27 Maret 2013
Coba Artikan Aku
| Aku Belum Tentu Pemabuk, Kota Wisata Batu, Indonesia (Model by: Oktavian "Bombom" Hernawan) |
Senin, 18 Februari 2013
Aku Benci Hujan, Sendirian
![]() |
| Beauty of Goa Cina Beach (Part 2), Malang, Indonesia (Model by: Najelina Ruth Jessica S.) |
Kamis, 14 Februari 2013
Aku, Kamu?
![]() |
| Beauty of Goa Cina Beach, Malang, Indonesia (Model by: Inne Orieska Putri) |
Kamis, 07 Februari 2013
(Apa) Aku (Apa)?
Rabu, 26 Desember 2012
Mayat Hidup
Selamat pagi, Embun. Cukup lama aku tak menyapamu, mungkin memang lama. Aku sedang sakit dan mungkin memang sedang kritis, aku terancam kehilangan beberapa organ tubuh vitalku; pandanganku mulai kabur dan tak lagi tajam, dokter bilang aku harus mencabut salah satu mataku atau kanker menjalar ke otak lalu aku menjadi mayat hidup; dokter bilang aku sedikit mati rasa, tak bisa lagi merasakan kesensitifan yang digadang-gadang oleh zodiakku sendiri bahwa aku adalah perasa ulung, aku harus mencabut satu-satunya hatiku; aku bahkan hampir tak bisa berpikir sempurna dan kehilangan daya abstraksi padahal ini adalah nilai tertinggi di tes IQ, iya, aku punya daya abstraksi yang terlampau tinggi dan itu hampir mati sekarang, dokter bilang aku harus memusnahkan otakku.
Kamis, 01 November 2012
#HaiNovember
![]() |
| "Dropped in the rain." |
"Ini baru memasuki November. Yakin mau segera pulang? Yakin tak mau duduk lagi dan membicarakan hal penting?"
Minggu, 28 Oktober 2012
Sajak Hujan
![]() |
| "Aku sudah pulang, Hujan.." |
Minggu, 21 Oktober 2012
#BubbleGum
Jumat, 17 Agustus 2012
Indescribable
| Buka Puasa Bersama Kabinet BEM FIB Bersatu 2012 |
Rabu, 08 Agustus 2012
Hedonisme Palsu
![]() |
| Indra - Fahmi - Rochmad - Frizda - Didin Kedai 27 (Burger Buto), Malang - August 5th, 2012 |
Minggu, 05 Agustus 2012
Tahun Kedelapan Tanpa Huruf Kedelapan
![]() |
| House Of Sampoerna - Surabaya (June 6th, 2010) |
Sabtu, 04 Agustus 2012
Tebak, Apa Isi Hatiku?
![]() |
| Kamu |
Selasa, 31 Juli 2012
Sebuah Kanvas
Senin, 09 Juli 2012
(Bukan) Laki-laki Berkacamata
Selasa, 22 Mei 2012
Gang Guanhati
Rabu, 16 Mei 2012
Latar
Senin, 16 Januari 2012
Tertinggal

Mau berkata apa lagi? Masih mau melawan? Kamu sudah patah sepatah-patahnya, sudah tenggelam jauh dalam jebakan yang sengaja kugali tengah dalam saat semua serigala sibuk menyusui bayi-bayinya. Masih mau mengelak? Kamu sudah hampir kalah, meski saat ini seharusnya sudah tidak seratus persen lagi. Kamu hanya perlu duduk menunggu kaleng-kaleng penadah tetesan hujan dari genting yang akan menjadi rumah baru oleh jentik-jentik nyamuk.
Ada yang kamu lupakan? Ya, kamu bahkan lupa mengucapkan salam perpisahan di hari saat kamu patah (lagi) (sudah berkali-kali). Ini patahmu yang ke-berapa? Aku harus mematahkan berapa lagi? Ini, aku akan masih tetap menyangga kelopak mata dengan batang korek, aku hanya butuh satu batang kecil itu. Tentunya dengan bantuan secangkir kopi hitam seperti biasa.
Baiklah. (Sebentar, aku meneguk kopi sejenak) Aku akan lanjutkan.
Sabtu, 07 Januari 2012
Refleksi Infeksi
Aku terinfeksi. Pada darah yang tak lagi merah, pada hujan yang tak lagi deras menghitam angan. Pada mimpi yang tak lagi pecah, pada angin yang tak lagi sepoi. Ini adalah refleksi sumber air yang ia kembalikan pada malam. Senja? Ia tetap berkutat pada sepi, menyusuri langkahku dari balik kaki-kaki patah yang sengaja kuseret. Sebenarnya, aku hanya berbohong. Tak kukatakan padanya bahwa kuhaus atas terik ini, aku hanya ingin bungkam sekali lagi. Iya, ini seperti yang kubaca darinya. Ini refleksi darinya. Ini cermin yang aku bayangkan, sengaja kutekan tombol print screen pada cermin itu, agar refleksinya berhenti, abadi, meskipun aku tengah berpindah jarak. Aku hanya ingin bayangan itu tetap di sana. Konstan.
Jumat, 04 November 2011
Terakhir

(Mengertilah, R)
Mungkin aku sedang bersalah pada bulan. Kubual dia hingga membangkang ketika malam harus datang. Atau, dia membuali aku yang terpaksa menurut pada malam? Hai bintang, jatuhkan bidadarimu agar aku tak bimbang dalam memilih jalan! Aku telah mengantongi sebuah bintang pijar untuk menuntun jalanku di tiap terjal langkah, untuk menamparku halus saat aku tersandung. Harusnya menolong, mengapa menampar? Oh, mungkin harus jauh lebih mempertegas.
Kupikir ini memang pilihanku, yang jauh terbaik untuk bekal dalam jalanku lurus ke depan. Juga pernah dibisikkan padaku jangan sekali-sekali menoleh ke belakang. Berjalan harus menatap depan, agar tak terjatuh jika tersandung dan terganjal batu dunia. Segala yang membunuh kelu lidahku juga sempat (selalu) dibersihkannya dengan telaten dan tanpa pamrih. Atau aku yang kurang peduli? Lalu apa yang harus kulihat?
Sayang, aku selalu paham apa yang kautasbihkan hanya untuk perlakuan terbaikku. Kaujaga api kecil yang menyalai lilin ini, terang (sedikit) dalam gelap pekat dan angin semilir beku yang meleburkan pompa nadi biru. Sayang, aku tak paham apa yang telah kuiriskan pada lehermu, hingga kau tak lagi bernapas dengan lancar, bibir merahmu membiru kelu tak berucap satu patah pun. Lalu kau berbalik dan menjauh dari mataku. Hey, harusnya jalanmu ke arahku, ke arah yang sama denganku. Kau salah jalan, sayang, kemari dan tuntun aku kembali. Aku, aku sedikit (selalu) rindu pada tuntunmu yang mendorongku menghindar dari lubang jerami di tengah rawa.
Mengapa tetap tak kaupalingkan wajahmu menghadap aku? Ini aku yang merindumu, aku rindu! Mungkin akan sedikit terasa hilang, namun selalu tak bisa (karena aku tak mau) hapuskan jauh-jauh hari yang penuh arti, tentang perjalanan kita. Lalu di mana saja partikel yang pernah kaurawatkan untuk aku? Haruskah kau buang juga di tempat sampah? Aku telah akrab dengan sampah, bau busuknya sangat wangi kuhirup (tanpa terpaksa) di tengah keringat busuk petinggi negara. Aku telah terbiasa, atau aku telah cinta? Sayang, kembalilah!
Aku cinta, kita telah bertemu. Lama. Seperti dulu.
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2011)
.jpg)
+(Copy).jpg)




.jpg)


