NOW AVAILABLE! "DIALOG BISU"

Tampilkan postingan dengan label angin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label angin. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Juli 2012

Aku (Masih) Mencari Aku

Malam ini masih sepi.
Masih duduk di antara sunyi-sunyi yang bertolak mesra bersama angin riuh yang datang malam ini.
Lebih kaku dari sebuah jurnal hitam berisi barisan antologi-antologi kegagalan, bukan, itu kumpulan keletihan.
Padahal di antaraku terdengar pecah tawa mantan-mantan orang-orang bodoh yang dulu aku pun ikut dalam kebodohannya.
Yang kutanam masih sepi, ini apa? Malam?
Jujur, ketika kutelusuri jalanan fana berlatar belakang rimba, yang kulihat adalah fatamorgana.

Sabtu, 28 Januari 2012

Cemburu

Ini apa? Aku kehilangan sinarmu malam ini, bulan. Atau karena kamu hanya datang menyabit mendung yang beberapa hari ini sengaja menguasai kerajaan angin. Sedikit kaget, sekitar empat puluh kilometer per jam! Aku terhuyung ke sana ke mari sama seperti saat pemikiranku terarus pada mata air. Aku tak suka menjadi lebih baik dari yang buruk. Ya, aku hanya akan mencintai jika aku menjadi yang terbaik di antara yang lebih baik.

Aku hanya ingin berdiri di antara gusaran debu yang di bawa angin sore ini, ah aku bosan jika hanya bisa memendam rasa pada tanah liat. Kukira tak akan tumbuh meski beberapa hari ini hujan masih turun, meski beberapa waktu terjadi pancaroba sesaat antara panas dan gerimis. Ini apa?

Aku mulai letih ketika mata tak terbendung lagi oleh secangkir, dua cangkir kopi hitam seperti biasa. Aku rindu pada malam itu, ketika kubasuh wajah dengan butiran lembut yang menghitam legam pada malam. Aku cemburu pada bulan yang beberapa hari ini berkuasa tanpa bintang dan lainnya. Aku sedikit tertampar oleh suasana hati yang terdengar risau.

Ini apa? Aku kepada jumlah tetesan darah yang sengaja juga kusayat sore itu. Aku ingin bertanya pada senja, sedang apa dia di sana? Tidurkah? Siapa yang memeluknya di antara dingin matahari malam? Bukankah harusnya aku yang memakan gelap ketika peluru menghunus mata dan mengecup keningmu?

Sayang, aku cemburu.


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Sabtu, 14 Januari 2012

Lemah

Aku masih belum bisa mencerna apa yang sulit aku makan,

aku memang tak pernah melakukan yang terbaik

Ini yang kausebut menang?

Aku bahkan tak paham terhadap apa yang telah kuhirup,

saat itu aromanya sarapan pagi bumbu pecel

sementara aku belum memakan satu sentipun


Aku tidak berkata ini sudah habis, aku tidak berpihak pada malam

yang kini selalu bersahabat denganku,

mungkin tidak selalu, namun sering ia menengok aku di tengah sepiku

Bertukar hembus nafas yang akhirnya berembun pada lenguh


Beberapa detik aku menyapa pada gerimis yang menyertakan badai

lalu menyusul pada hujan deras dengan tangisan parau

Ini yang dinamakan kalbu?

Kepada angin aku berteriak

“AKU LAPAR!”


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Sabtu, 07 Januari 2012

Refleksi Infeksi


Aku terinfeksi. Pada darah yang tak lagi merah, pada hujan yang tak lagi deras menghitam angan. Pada mimpi yang tak lagi pecah, pada angin yang tak lagi sepoi. Ini adalah refleksi sumber air yang ia kembalikan pada malam. Senja? Ia tetap berkutat pada sepi, menyusuri langkahku dari balik kaki-kaki patah yang sengaja kuseret. Sebenarnya, aku hanya berbohong. Tak kukatakan padanya bahwa kuhaus atas terik ini, aku hanya ingin bungkam sekali lagi. Iya, ini seperti yang kubaca darinya. Ini refleksi darinya. Ini cermin yang aku bayangkan, sengaja kutekan tombol print screen pada cermin itu, agar refleksinya berhenti, abadi, meskipun aku tengah berpindah jarak. Aku hanya ingin bayangan itu tetap di sana. Konstan.

Rabu, 14 September 2011

Aku Mencintaimu, Angin

Aku mencintaimu seperti angin.

Yang datang tanpa terlihat. Yang terasa sejuk meski tak kasat mata. Yang selalu meniup dan keringkan cucian-cucian ibu di rumah. Yang mengajak pohon-pohon sepi untuk menari.

Yang datang menerbangkan spermatozoa benang sari ke putik bunga lain agar terjadi pembuahan. Yang kemudian menyisir bulu-bulu kelinci agar tetap sehalus kain sutra. Yang tak pernah mengigau saat terjaga. Yang dengan mudahnya menerbangkan layang-layang harapan.

Yang mengajak pasir-pasir untuk singgah di balkon rumahku. Yang menemani debu-debu membusukkan mata hati. Yang melemahkan syahwat kala nafsu membabi buta. Yang memaksa mata tersiram butiran kecil hingga sedikit perih.

Aku mencintaimu seperti angin.

Yang membuatku bersyukur untuk mengajak hujan turun berkunjung di tepian pantai malam. Yang membuatku terpesona saat mengundang bintang-bintang tetap terang di antara gelap gulita. Yang membuatku telah melupakan awan abu-abu penyebab patahnya penaku.

Aku mencintaimu seperti angin. Yang membuatku selalu bersyukur karena tanpa angin aku tak bisa bernapas dengan baik.


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2011)