Kamis, 04 Oktober 2012
Kamu Datang, Kembali
Selasa, 21 Agustus 2012
Kedai Pertemuan
Jumat, 17 Agustus 2012
Indescribable
| Buka Puasa Bersama Kabinet BEM FIB Bersatu 2012 |
Rabu, 04 Juli 2012
Catatan Hari Ini
Rabu, 04 April 2012
Mosaik
Aku ini siapa? Masihkah aku tetap sama?
Sama dengan aku yang masih sampah dan bekas
Sama dengan aku ketika masih tak berpakaian dalam dan berdiri di tepi mimpi
Sama dengan mereka di rumah lonte yang menjajakan keperawanannya
Apa aku (masih) sama?
Aku ini siapa? Aku kehilangan aku
Kehilangan ke mana aku bermimpi
Ketika itu aku mengadu pada palang tebing, aku rindu sore
Di tengah peraduan tenggelam matahari pukul enam petang
Di sana aku masih mengais puntung-puntung harapan yang pernah aku gambarkan
Memanfaatkan celana dalam bekas darah menstruasi pekerja seks yang memaksa bekerja
Aku ini (masih) siapa?
Aku rindu
Di alam baru itu, aku membaca pelangi-pelangi yang lebih berfragmen
Di sini lebih bermosaik
Ah, aku tetap aku
Harusnya aku tetap aku
Patahkan aku
Silakan
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)
Minggu, 29 Januari 2012
Melarat atau Konglomerat
Rakyat jelata, rakyat sibuk meminta
Bukan tak pernah ikut mengkritik pemerintah,
namun sudahkah kalian bercermin sebelum berorasi di depan gedung petinggi?
Hidup di bawah garis kemelaratan tidak membuat kalian berbuat lebih suci dari pemimpin-pemimpin itu, pun mereka yang bermewah diri tidak selalu mendosai hati
Di bawah background kemiskinan, yang kalian pilih adalah jalan pintas agar meraup untung berlimpah
Mengakulah, seiring berjalannya senja, berangkat beramai-ramai membohongi diri sendiri dan mencurangi kaum-kaum tak bersalah pada kalian
Sebelum melempar batu ke wajah petinggi-petinggi kalian, ini, aku beri kalian cermin raksasa
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)
Sabtu, 28 Januari 2012
Cemburu
Ini apa? Aku kehilangan sinarmu malam ini, bulan. Atau karena kamu hanya datang menyabit mendung yang beberapa hari ini sengaja menguasai kerajaan angin. Sedikit kaget, sekitar empat puluh kilometer per jam! Aku terhuyung ke sana ke mari sama seperti saat pemikiranku terarus pada mata air. Aku tak suka menjadi lebih baik dari yang buruk. Ya, aku hanya akan mencintai jika aku menjadi yang terbaik di antara yang lebih baik.
Aku hanya ingin berdiri di antara gusaran debu yang di bawa angin sore ini, ah aku bosan jika hanya bisa memendam rasa pada tanah liat. Kukira tak akan tumbuh meski beberapa hari ini hujan masih turun, meski beberapa waktu terjadi pancaroba sesaat antara panas dan gerimis. Ini apa?
Aku mulai letih ketika mata tak terbendung lagi oleh secangkir, dua cangkir kopi hitam seperti biasa. Aku rindu pada malam itu, ketika kubasuh wajah dengan butiran lembut yang menghitam legam pada malam. Aku cemburu pada bulan yang beberapa hari ini berkuasa tanpa bintang dan lainnya. Aku sedikit tertampar oleh suasana hati yang terdengar risau.
Ini apa? Aku kepada jumlah tetesan darah yang sengaja juga kusayat sore itu. Aku ingin bertanya pada senja, sedang apa dia di sana? Tidurkah? Siapa yang memeluknya di antara dingin matahari malam? Bukankah harusnya aku yang memakan gelap ketika peluru menghunus mata dan mengecup keningmu?
Sayang, aku cemburu.
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)
Kamis, 26 Januari 2012
Limbah
Sudah beberapa menit sejak aku terinjak ketika aku sedikit tersesak
Ya, sedikit tersesak kataku karena aku tak mampu membuai pagi selayak saat pertama aku tiba
Tak mampu mengindahkan nada pada genting hening malam kosong
Aku hanya ingin berkisah tentang aku lagi, bukan siapapun lagi, bukan tentang peran kedua atau ketiga, namun peran pertama yang kusebut aku
Pada gumpalan maya menatap lantun krusial gundah, lalu aku terpaku, sendu, seperti jingga
Bukan tentang senja! Sudah kujelaskan, bukan, ini hanya tentang aku
Tentang aku yang sedang memilukan jengah pada nusa
Lalu menghempas hela karena duka, aku terpuruk pada elegi fajar!
Ego yang tertanam lalu tersesak hingga meletup-letup kepada butir gemetar
Sudah cukup yang tertanam, lalu menguak tumbuh mengeroyak memecah lapisan gersang yang memaksa amarah
Bisakah aku belajar memakan rerumput fana yang nyatanya rumit?
Ah, aku hanya terpuruk di antara kubangan tambak keruh yang kupinjam dari saudagar sebelah
Nyatanya yang terhirup hanya nitrogen-nitrogen bekas limbah pendustaan kelam, yang memang sengaja kuolah (maksudnya kupaksa, ya, sedikit penekanan) agar terlihat lebih kumuh
Sudahlah, kepada cermin yang kulihat saat ini, kau munafik!
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)
