NOW AVAILABLE! "DIALOG BISU"

Tampilkan postingan dengan label senja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label senja. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Oktober 2012

Kamu Datang, Kembali



Hai, hujan. Selamat datang kembali. Aku menyambutmu dengan sedikit ragu, kaukah pembawa kecewa dan luka itu? Sudah berapa lama kamu meninggalkan tanah ini? Sekarang datang dengan tiba-tiba? Ah, aku salah. Kamu telah menyiapkan kedatanganmu beberapa hari sebelum akhirnya turun hari ini. Sudah kamu tunjukkan pertandamu sebelum kamu turun hari ini. Selamat datang kembali, hujan.

(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Selasa, 21 Agustus 2012

Kedai Pertemuan


Aku tak ingin mengingatnya, tidak
Entah tiba-tiba setelah kuperdengar dan kupahami sesaat,
lagu favoritku seakan melambangkannya

Dia seperti penerang malamku
Dia seperti penyejuk siangku
Dia tak kusangka dia balas pandanganku

Entah apa seperti itu yang pernah terjadi,
tapi yang pernah kubaca dari mana entah aku tak ingat,
momennya lebih indah dari itu, bagimu

Dia begitu jauh di mataku
Dia begitu jauh jangkauku
Dia tak kusangka dia balas senyumanku

Jumat, 17 Agustus 2012

Indescribable

Buka Puasa Bersama
Kabinet BEM FIB Bersatu 2012
Aku mulai membangunnya lagi, membangun semua yang katamu telah runtuh berkeping-keping bak amuba yang membelah diri. Bata demi bata kususun ulang meski matahari mulai meredup sore ini, meski penagih utang yang sejak beberapa minggu yang lalu telah menodongku dengan tagihan kasbon berlimpah. Aku benar ingin kembali, mencintaimu sesulit menjaga ketenangan genangan air ba’da hujan kemarin sore. Rumit.

Rabu, 04 Juli 2012

Catatan Hari Ini


Selamat petang, Embun.
Sedikit banyak, mungkin aku memahami isi hatimu kini,
jangan lupakan, kita satu.
Meski tak sebanyak yang aku tak tahu, aku mengerti tanpa menebak hatimu gundah.
Ya, sudah lama tak kupakai kata itu,
gundah.
Milikmu dalam pikiranmu sedang runyam,
rentan terhadap malam yang sepi.

Rabu, 04 April 2012

Mosaik

Aku ini siapa? Masihkah aku tetap sama?

Sama dengan aku yang masih sampah dan bekas

Sama dengan aku ketika masih tak berpakaian dalam dan berdiri di tepi mimpi

Sama dengan mereka di rumah lonte yang menjajakan keperawanannya

Apa aku (masih) sama?


Aku ini siapa? Aku kehilangan aku

Kehilangan ke mana aku bermimpi

Ketika itu aku mengadu pada palang tebing, aku rindu sore

Di tengah peraduan tenggelam matahari pukul enam petang

Di sana aku masih mengais puntung-puntung harapan yang pernah aku gambarkan

Memanfaatkan celana dalam bekas darah menstruasi pekerja seks yang memaksa bekerja

Aku ini (masih) siapa?


Aku rindu

Di alam baru itu, aku membaca pelangi-pelangi yang lebih berfragmen

Di sini lebih bermosaik

Ah, aku tetap aku

Harusnya aku tetap aku

Patahkan aku

Silakan


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Minggu, 29 Januari 2012

Melarat atau Konglomerat

Rakyat jelata, rakyat sibuk meminta

Bukan tak pernah ikut mengkritik pemerintah,

namun sudahkah kalian bercermin sebelum berorasi di depan gedung petinggi?

Hidup di bawah garis kemelaratan tidak membuat kalian berbuat lebih suci dari pemimpin-pemimpin itu, pun mereka yang bermewah diri tidak selalu mendosai hati

Di bawah background kemiskinan, yang kalian pilih adalah jalan pintas agar meraup untung berlimpah

Mengakulah, seiring berjalannya senja, berangkat beramai-ramai membohongi diri sendiri dan mencurangi kaum-kaum tak bersalah pada kalian

Sebelum melempar batu ke wajah petinggi-petinggi kalian, ini, aku beri kalian cermin raksasa


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Sabtu, 28 Januari 2012

Cemburu

Ini apa? Aku kehilangan sinarmu malam ini, bulan. Atau karena kamu hanya datang menyabit mendung yang beberapa hari ini sengaja menguasai kerajaan angin. Sedikit kaget, sekitar empat puluh kilometer per jam! Aku terhuyung ke sana ke mari sama seperti saat pemikiranku terarus pada mata air. Aku tak suka menjadi lebih baik dari yang buruk. Ya, aku hanya akan mencintai jika aku menjadi yang terbaik di antara yang lebih baik.

Aku hanya ingin berdiri di antara gusaran debu yang di bawa angin sore ini, ah aku bosan jika hanya bisa memendam rasa pada tanah liat. Kukira tak akan tumbuh meski beberapa hari ini hujan masih turun, meski beberapa waktu terjadi pancaroba sesaat antara panas dan gerimis. Ini apa?

Aku mulai letih ketika mata tak terbendung lagi oleh secangkir, dua cangkir kopi hitam seperti biasa. Aku rindu pada malam itu, ketika kubasuh wajah dengan butiran lembut yang menghitam legam pada malam. Aku cemburu pada bulan yang beberapa hari ini berkuasa tanpa bintang dan lainnya. Aku sedikit tertampar oleh suasana hati yang terdengar risau.

Ini apa? Aku kepada jumlah tetesan darah yang sengaja juga kusayat sore itu. Aku ingin bertanya pada senja, sedang apa dia di sana? Tidurkah? Siapa yang memeluknya di antara dingin matahari malam? Bukankah harusnya aku yang memakan gelap ketika peluru menghunus mata dan mengecup keningmu?

Sayang, aku cemburu.


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Kamis, 26 Januari 2012

Limbah

Sudah beberapa menit sejak aku terinjak ketika aku sedikit tersesak

Ya, sedikit tersesak kataku karena aku tak mampu membuai pagi selayak saat pertama aku tiba

Tak mampu mengindahkan nada pada genting hening malam kosong

Aku hanya ingin berkisah tentang aku lagi, bukan siapapun lagi, bukan tentang peran kedua atau ketiga, namun peran pertama yang kusebut aku

Pada gumpalan maya menatap lantun krusial gundah, lalu aku terpaku, sendu, seperti jingga


Bukan tentang senja! Sudah kujelaskan, bukan, ini hanya tentang aku

Tentang aku yang sedang memilukan jengah pada nusa

Lalu menghempas hela karena duka, aku terpuruk pada elegi fajar!

Ego yang tertanam lalu tersesak hingga meletup-letup kepada butir gemetar

Sudah cukup yang tertanam, lalu menguak tumbuh mengeroyak memecah lapisan gersang yang memaksa amarah

Bisakah aku belajar memakan rerumput fana yang nyatanya rumit?


Ah, aku hanya terpuruk di antara kubangan tambak keruh yang kupinjam dari saudagar sebelah

Nyatanya yang terhirup hanya nitrogen-nitrogen bekas limbah pendustaan kelam, yang memang sengaja kuolah (maksudnya kupaksa, ya, sedikit penekanan) agar terlihat lebih kumuh

Sudahlah, kepada cermin yang kulihat saat ini, kau munafik!


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)