NOW AVAILABLE! "DIALOG BISU"

Tampilkan postingan dengan label awan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label awan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 April 2011

Senyap

Senyap menyergap namun tak kunjung terlelap karena tertutup awan gelap yang memaksa mata terjaga tak sekejap, lalu menyita angin hingga gemerlap bulan tak berucap.
Kau tahu?
Bintang sedang terperangkap dan aku tak bisa terlelap dalam gelap.
Dan ketika surya mulai mengerling, mengintip di balik fajar pun mataku akan tetap terjaga sampai kutemui sebuah jawaban dari harapku.
Aku bahkan tak percaya sang surya akan datang esok!
Awan terlalu pekat, mungkin sampai esok pun tetap gelap.
Adakah jawab untuk harap yang tak terungkap, untuk harap yang maya, untuk harap yang bahkan tak mampu kuceritakan saat terang, terlebih lagi saat pekat?

Kamis, 27 Januari 2011

Buta oleh Awan Hitam

Ya, kurasa ini adalah ungkapan yang tepat.
Lalu kubuka buku ini dan mulai menulis.
Kosong dan buta, sebersit awan hitam lalu membungkam anganku.
Sempat kupetik seonggok dahan kecewa, namun akhirnya kupatahkannya.
Pohon harapan tersentak, lalu marah!
Kucoba berkata dengan angin sepoi, namun sedikit teriakan seakan membuat angin marah.
Kuberteriak agar kukalahkan gemuruh badai yang menghabisi suara parau mulutku.
Namun terlanjur marah, kecewa.
Aku semakin buta dalam terang jiwanya, harapan kosong yang telah kurapuhkan asanya.
Telah kugagalkan sebuah rintikan gerimis, namun itu bukan sebuah kebenaran, dan aku semakin buta.
Kuraba lantai yang harusnya aku dapat melihat, tak sanggup karena mata tertutup bongkahan awan hitam yang sesekali membunyikan guntur kecil.
Keadaan mereda, aku pun bangkit, namun tetap buta.
Dan angin menyapu tubuh saat aku lengah, lalu terkapar.
Lalu aku berpikir, inilah penyesalan, inilah salah.
Telah kuhancurkan harapan itu.
Yang terpikir olehku, kutanam kembali sebuah pohon baru, lalu kusiram dengan air hujan tanpa kutunggu kapan pun hujan akan datang.

(Fahmi Rachman Ibrahim, 2011)

Sabtu, 11 Desember 2010

Air Asing, Merah Legam

Gelap, mungkin aku tersesat dalam kegalauan pikiran yang selalu memaksa hidup.
Kucari segala kebaikan, kukerahkan segala semangat, menyusun seperti semula.
Tubuh batang lidi yang kumiliki terlontar karena kejutnya.
Seakan tak pernah berpikir sejauh apa yang hujan jatuhkan ke bumi, air darah!
Merah, pucat, kental, aku sangat tak nyaman dengan kedatangannya.

Selasa, 02 November 2010

Karena Ku Punya Kau

Kepada kupu-kupu, hujan bertanya tentang sebuah ketenangan.
Kupu-kupu menjawab, “Aku tenang karena aku hidup untuk diriku sendiri.”
Kepada kunang-kunang, hujan bertanya tentang sebuah kenyamanan.
Kunang-kunang menjawab, “Aku tak punya beban, hanya bermain dengan ekorku saat gelap menyapa.”
Kepada anak serigala, hujan menyapa tentang keamanan.
Anak serigala menjawab, “Orang tua ku belum pernah gagal menjagaku. Mereka hebat.”

Rabu, 27 Oktober 2010

Aku Datang Karena Mereka Butuh

Awan bertanya pada matahari, “Bolehkah aku mengajak hujan bermain bersamaku?” Dan matahari menjawab dengan tegas, “Belum waktunya. Sekarang waktu masih milikku.”
Awan berpikir, “Ya, matahari memang raja di siang hari. Dan aku selalu hanya terdiam, karena hanya ia yang berkuasa.”
Awan berkata pada hujan, “Hei, aku ingin bermain bersamamu. Namun matahari berkehendak lain. Ia berpikir, siang hari adalah miliknya.” Dengan tenang hujan pun menjawab, “Masih ada waktu.”
Malam hari, awan bertanya pada bulan, “Bolehkah aku memanggil hujan? Aku ingin bermain dengannya.” Bulan pun menjawab, “Kupikir, ini saatnya aku berdiri seorang diri di atas langit. Bukan begitu?”

Bukan Aku atau Kau, namun Kita

Mungkin hujan berkata aku, dan ia berkata kau pada awan.
Mungkin matahari berkata aku, dan ia berkata kau pada bulan.
Mereka tak pernah paham, apa arti aku dan kau, karena mereka bukan kita.
Mereka tak pernah mengerti, apa arti aku dan kau, karena mereka tak seperti kita.