NOW AVAILABLE! "DIALOG BISU"

Tampilkan postingan dengan label bintang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bintang. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Januari 2014

Aku, Dia, dan Sebuah Gelas Kaca

Pantai Ngliyep, Kabupaten Malang, 2014

Hari ini aku bertemu lagi dengannya. Dengannya yang belum juga mengerti tentang rasaku padanya. Ah, aku selalu begini, selalu terjebak dalam spekulasiku sendiri. Aku sering menyalahkannya tak pernah mengerti rasaku padahal harusnya aku yang tak pernah berani sampaikan rasaku. Entah, tapi dengan sering meletakkan dia di posisi yang salah karena tak pernah tahu rasaku, aku lebih bisa punya banyak cerita.
Kembali ke ceritaku hari ini. Dia yang bahkan bukan berawal dari teman dan hanya karena bekerja dalam satu lingkup denganku, kini berakhir dengan aku yang jatuh padanya dan aku tak pernah tahu apa juga sebaliknya. Seperti biasanya, hari ini berakhir dengan aku diantarnya menuju rumah tinggalku, dengan menikmati sisa malam berpiring-piring sebelumnya. Kamu gila, aku bukan suka saat-saat seperti ini, tapi AKU GILA KARENA SUKA SAAT-SAAT SEPERTI INI.

Minggu, 28 Oktober 2012

Sajak Hujan

"Aku sudah pulang, Hujan.."
Aku pulang, di tanah Surabaya aku merasa telah meninggalkan hiruk pikuk super sibuk keseharian di tanah berjarak 90 kilometer. Sudah sangat gontai, sudah merasa penat teramat dan memang kubutuh rehat. Sudah sangat lemah dihunus kedinginan kota kecil yang bukan adaptasiku sejak lahir, iya, aku butuh panas untuk menetralisir.
Aku sudah pulang, aku sudah di tanah Surabaya. Aku kembali dengan sengaja melepas seluruh tracking bag bahkan aku datang bertelanjang kaki agar benar-benar steril. Dengan balutan secangkir kopi, sekali lagi kucoba memutar perlahan mesin waktu di tengah kota metropolitan mantan calon ibukota pengganti ini. Taman Bungkul, Balai Pemuda Surabaya, Monumen Bambu Runcing, Jembatan Plasa Surabaya, Makam Cina Kembang Kuning, Lokalisasi Dolly, Kebun Binatang Surabaya, Tunjungan Plaza.

Minggu, 01 Juli 2012

Komersial Eksklusif


Sudah sejak lama telah kutinggalkan jejak terakhirku di sudut kebun palem itu,
sejak segala intervensi mulai bereproduksi hingga beribu mata pun kaki tak bergeming untuk dihina
Mana malamku?
Atau, ini pagimu yang kaujanjikan indah itu?
Ah seperti sesuap nasi yang kuteguk di bawah sukun duabelas jam yang lalu,
semuanya lenyap
Pagimu, malamku, mataharimu, bulanku, embunmu, bintangku
Tak ada lagi yang sesuai

Sabtu, 28 Januari 2012

Cemburu

Ini apa? Aku kehilangan sinarmu malam ini, bulan. Atau karena kamu hanya datang menyabit mendung yang beberapa hari ini sengaja menguasai kerajaan angin. Sedikit kaget, sekitar empat puluh kilometer per jam! Aku terhuyung ke sana ke mari sama seperti saat pemikiranku terarus pada mata air. Aku tak suka menjadi lebih baik dari yang buruk. Ya, aku hanya akan mencintai jika aku menjadi yang terbaik di antara yang lebih baik.

Aku hanya ingin berdiri di antara gusaran debu yang di bawa angin sore ini, ah aku bosan jika hanya bisa memendam rasa pada tanah liat. Kukira tak akan tumbuh meski beberapa hari ini hujan masih turun, meski beberapa waktu terjadi pancaroba sesaat antara panas dan gerimis. Ini apa?

Aku mulai letih ketika mata tak terbendung lagi oleh secangkir, dua cangkir kopi hitam seperti biasa. Aku rindu pada malam itu, ketika kubasuh wajah dengan butiran lembut yang menghitam legam pada malam. Aku cemburu pada bulan yang beberapa hari ini berkuasa tanpa bintang dan lainnya. Aku sedikit tertampar oleh suasana hati yang terdengar risau.

Ini apa? Aku kepada jumlah tetesan darah yang sengaja juga kusayat sore itu. Aku ingin bertanya pada senja, sedang apa dia di sana? Tidurkah? Siapa yang memeluknya di antara dingin matahari malam? Bukankah harusnya aku yang memakan gelap ketika peluru menghunus mata dan mengecup keningmu?

Sayang, aku cemburu.


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Rabu, 09 November 2011

Delapan Bintang


Malam itu gerimis setia menyapa beku untuk selalu (dan masih) menampar aku

Pada embun, awan tak bergeming sepi dan berkedip

Hujan yang mendominasi gundah malamku seakan mematikan rasa lelah

Harusnya malam ini


Ya, malam ini

Malam dengan segala penyambutan hebat di antara bintang dan bintang

Bintang

Bukan hujan!

Bukan hujan lagi yang selalu kausebut aku mencintainya, ini bintang!

Sekitar delapan kali kuulang pengucapan mantra pada langit

Berharap lebih untuk semua kabut agar segera beranjak dari selimut malam

Lalu tersingkirkan oleh rasi-rasi bintang yang harusnya datang

Malam ini


Sengaja kubuai guntur agar tak mendengar rintihan pelacur malam

Aku bangun, atas mimpi-mimpi yang lama kugantung di kamar mandi

Kubiar hingga mengembun busuk di samping air lusuh

Saat mencoba untuk meraih kembali, sedikit telah luntur dari genggaman

Tidak, ini masih mimpiku


Tak pernah aku hapuskan gelap dengan paksa

Hanya karena aku terlalu membara, bersemangat menampik gerimis

Hanya untuk merangkai bintang menjadi mimpiku, nyata

Ini nyata, aku dan bintang nyata

Kami nyata


Aku bahagia, gundah terusik dari mimpi dengan penat yang pergi berlalu karena bosan

Aku berhasil

Kugubah malam tanpa angin dingin

Lalu kurangkai lagi bintang ini, delapan


#8thjrocks1spirit


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2011)

Kamis, 28 Juli 2011

Satu Bintang

Terdiam di sudut ruang angkasa yang sedikit berudara namun tetap hampa
Di antara bermilyar lipat trilyun lalu aku melihatmu
Bintang
Satu

Tepat di atas kepalaku sedang berbinar tegar
Di antara berkilometer kabut lalu aku menunjukmu
Bintang
Satu

Untuk palang pintu yang menghadang, untuk kibas kipas sate yang menyejukkan
Di antara mimbar-mimbar dosa lalu aku mengharap terangmu
Bintang
Satu

Menuju kemilau senja yang memerah
Di antara peluh resah petani lalu aku berteduh padamu
Bintang
Satu

Aku bingung untuk menganalogikanmu dengan apa
Aku juga tak paham seperti apa perincian lekuk senyummu tiap senti
Memang tak mudah
Namun aku berusaha

Ini untuk kamu
Seseorang yang memang baru
Seseorang yang aku sayang
Bukan hanya sekadar bintang
Juga untuk lebih dari yang kukenal dengan menyebut
Teman
Sahabat?
Ya

(Fahmi Rachman Ibrahim, 2011)


Senin, 11 Juli 2011

Taman Bungkul, Surabaya

Ada penjual kopi
Ada beberapa anak-anak balita bermain
Ada beberapa pasang mata sedang bertukar cinta
Ada juga yang datang berkeluarga
Ada penjual es krim
Ada penjual jajanan pasar
Ada beberapa batang rokok yang membusuk
Ada penjual tahu Sumedang
Ada seorang anak balita merapikan celananya
Ada beberapa gelembung sabun
Ada pijaran lampu-lampu kuning
Ada pohon-pohon berdesis dengan angin
Ada mainan mobil-mobilan
Ada satu papan skate yang menganggur
Ada beberapa tong sampah di tiap sudut taman
Ada berpuluh mainan baling-baling yang tak kami kenal apa namanya

Ada dua yang tak kami temukan di sini.
Bintang, dan hujan.
Hanya mendung dengan beberapa kilatan petir.

(Fahmi Rachman Ibrahim, 2011)

Depresi

Jatuh bangun
Berusaha tetap tegak
Berdiri
Meski gagal
Namun tak pernah
Letih

Hari itu aku berhenti bernapas, juga berhenti makan
Bukan sok galau atau apapun
Hanya ingin berhenti sejenak
Melepas penat

Olesan balsem
Rajin menghampiri leher
Yang kurasa sedang keseleo
Bukan
Ini mungkin karena
Tekanan darah rendahku

Mereka mencoba menyapaku
Masih saja sinis dengan pandangan yang menancapkan pisau luka
Mereka suguhkan kata sabar
Entah, aku kurang percaya
Masih tetap ada rasa curiga terhadap cahaya palsu yang tak seterang bintang

Tak ada lagi
Hujan
Juga embun
Bintang sedang gusar
Terselimuti awan mendung
Aku
Tak lagi rindu

Aku rindu pada hujan lain

(Fahmi Rachman Ibrahim, 2011)

Minggu, 27 Februari 2011

Track


Deras yang turun siang itu, teringat hembus napas mereka yang selalu ukir sebuah senyum menindas penat pada bibirku.
Kucoba menulis sesuatu yang indah namun gagal, masih buntung.
Halus kain celana komprang yang pernah kupinjam dari salah seorang mereka masih melekat di paha.
Aku merindu, pada tawa mereka.
Itulah sahabat dan bintang.
Kutemukan terangnya hanya empat sinar pada galaksi jauh.
Pernah kutulis beberapa track untuk mereka, dan mereka suka, setuju.
Satu bintang terterang yang masih kunikmati indahnya, dan tiga lainnya meredup, mungkin masih bersembunyi di balik kemunafikan warna pelangi dalam malam.
Kubagi di sini, track-track itu:
  • Andra And The Backbone – Tak Ada Yang Bisa.mp3
  • Blackout – Join Kopi.mp3
  • d’Cinnamons – Kuyakin Cinta.mp3
  • Drive – Mimpi Selamanya.mp3
  • Evo – Terlalu Lelah.mp3
  • Garasi – Sahabat.mp3
  • Ipank – Sahabat Kecil.mp3
  • J-Rocks – Kuingin Kau Untukku.mp3
  • Kapten – Malaikat Cinta.mp3
  • Nidji – Bila Aku Jatuh Cinta.mp3
  • Padi – Begitu Indah.mp3
  • Rocket Rockers – Reuni.mp3
  • Sheila On 7 – Anugrah Terindah.mp3
  • Sheila On 7 – Dan.mp3
  • Slank – Terlalu Manis.mp3
  • Vegaz – Malam Sepi.mp3
Hanya berharap, suatu malam dapat berkumpul dan melepas sebuah tawa seperti kala itu, teman.

(Fahmi Rachman Ibrahim, 2011)

Rabu, 16 Februari 2011

Bintang Hangat pada Awaknya


Terukir dalam benak tentang sebuah tulisan.
Satu adalah dari garis hidup seorang kerabat dekat, ia mencinta, merindu, mengharap pada seorang bintang yang harusnya telah ia miliki, namun asanya tertutup oleh kelam.
Bintangnya sangat benderang, menghapus momok hitam yang selama ini dirasa, dan bintangnya adalah bukan pertama.
Ya, memang pertama yang ia rasakan tentang cemburu, kasih sayang, dan penerangan kalbu.

Jumat, 14 Januari 2011

Bintangku

Ketika kupejamkan mata, berat yang kurasakan.
Pekat, kelam, gundah tak beraturan.
Hati tak pernah kosong, akal pikiran tak berhenti terisi wajahnya.
Ia tertawa, senyuman manis terukir dalam mimpiku.
Lalu kuterjaga, mata terbuka, akal pikirku menuju padanya.
Hujan tak datang hari ini, terik pun tak ada kabar.
Hanya angin sepoi yang menyapaku, sepi.
Bahkan awan legam tak melirikku, acuh.
Sesal? Bukan sesal yang harus kusalahkan.
Cinta? Aku muak mendengarnya.
Aku pun percaya pada sebuah sayang yang tulus, mengalir bagai air yang bahkan tak menyerah meski tertabrak karang.
Aku hanya untuknya, ia adalah aku.
Tak pernah ingin menghapus sebuah senyum, yang ia ukir abadi dalam mata hinaku.
Aku, untuknya.

(Fahmi Rachman Ibrahim, 2011)