NOW AVAILABLE! "DIALOG BISU"

Tampilkan postingan dengan label pelangi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pelangi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Juli 2012

Komersial Eksklusif


Sudah sejak lama telah kutinggalkan jejak terakhirku di sudut kebun palem itu,
sejak segala intervensi mulai bereproduksi hingga beribu mata pun kaki tak bergeming untuk dihina
Mana malamku?
Atau, ini pagimu yang kaujanjikan indah itu?
Ah seperti sesuap nasi yang kuteguk di bawah sukun duabelas jam yang lalu,
semuanya lenyap
Pagimu, malamku, mataharimu, bulanku, embunmu, bintangku
Tak ada lagi yang sesuai

Rabu, 04 April 2012

Mosaik

Aku ini siapa? Masihkah aku tetap sama?

Sama dengan aku yang masih sampah dan bekas

Sama dengan aku ketika masih tak berpakaian dalam dan berdiri di tepi mimpi

Sama dengan mereka di rumah lonte yang menjajakan keperawanannya

Apa aku (masih) sama?


Aku ini siapa? Aku kehilangan aku

Kehilangan ke mana aku bermimpi

Ketika itu aku mengadu pada palang tebing, aku rindu sore

Di tengah peraduan tenggelam matahari pukul enam petang

Di sana aku masih mengais puntung-puntung harapan yang pernah aku gambarkan

Memanfaatkan celana dalam bekas darah menstruasi pekerja seks yang memaksa bekerja

Aku ini (masih) siapa?


Aku rindu

Di alam baru itu, aku membaca pelangi-pelangi yang lebih berfragmen

Di sini lebih bermosaik

Ah, aku tetap aku

Harusnya aku tetap aku

Patahkan aku

Silakan


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Jumat, 24 Februari 2012

Reminder

Aku mati. Semakin lenyap. Dan aku masih telah lebur di dalam matanya yang senja, seperti saat menghirup udara setelah tenggelam di air selama 5 jam tanpa nafas. Nikmat dan lega.
Aku temukan di sana, di mata itu. Cantik sekali seperti gambaran yang tak pernah kukumpulkan untuk dinilai sebagai nilai tugas oleh guru TK. Ya, menurutku memang gambarku yang terbaik meskipun garis hitamnya hampir semua terlindas warna-warna yang kutempatkan secara tidak tepat. Bagiku tetap indah, kan? Tidak ada yang melebihi milikku. Itu yang kutemukan di sana. Di matanya. Kamu.

(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Jumat, 17 Februari 2012

Seperti Pelangi

Tuhan, pelangi itu pasti ada, kan? Pelangi itu selalu datang setelah gerimis badai siang ini, kan?
Aku rindu padanya, pada dia yang selalu menampar aku, pada dia yang berlebihan mencintai mataharinya, pada dia yang bodoh untuk mengungkapkan perasaan bahagianya karena memiliki mata angin.
Tuhan, aku rindu padanya. Embun pagi itu, saat kuucapkan selamat pagi. Juga tolong akhiri kemarau hujan-Mu. Aku sakit karenanya.
Tuhan, aku cinta pada-Mu, dan dia.

PS: Aku sedang menulis di "catatan" ponsel baruku.

(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)