Selamat pagi, Embun. Cukup lama aku tak menyapamu, mungkin memang lama. Aku sedang sakit dan mungkin memang sedang kritis, aku terancam kehilangan beberapa organ tubuh vitalku; pandanganku mulai kabur dan tak lagi tajam, dokter bilang aku harus mencabut salah satu mataku atau kanker menjalar ke otak lalu aku menjadi mayat hidup; dokter bilang aku sedikit mati rasa, tak bisa lagi merasakan kesensitifan yang digadang-gadang oleh zodiakku sendiri bahwa aku adalah perasa ulung, aku harus mencabut satu-satunya hatiku; aku bahkan hampir tak bisa berpikir sempurna dan kehilangan daya abstraksi padahal ini adalah nilai tertinggi di tes IQ, iya, aku punya daya abstraksi yang terlampau tinggi dan itu hampir mati sekarang, dokter bilang aku harus memusnahkan otakku.
Rabu, 26 Desember 2012
Mayat Hidup
Selamat pagi, Embun. Cukup lama aku tak menyapamu, mungkin memang lama. Aku sedang sakit dan mungkin memang sedang kritis, aku terancam kehilangan beberapa organ tubuh vitalku; pandanganku mulai kabur dan tak lagi tajam, dokter bilang aku harus mencabut salah satu mataku atau kanker menjalar ke otak lalu aku menjadi mayat hidup; dokter bilang aku sedikit mati rasa, tak bisa lagi merasakan kesensitifan yang digadang-gadang oleh zodiakku sendiri bahwa aku adalah perasa ulung, aku harus mencabut satu-satunya hatiku; aku bahkan hampir tak bisa berpikir sempurna dan kehilangan daya abstraksi padahal ini adalah nilai tertinggi di tes IQ, iya, aku punya daya abstraksi yang terlampau tinggi dan itu hampir mati sekarang, dokter bilang aku harus memusnahkan otakku.
Selasa, 21 Agustus 2012
Kedai Pertemuan
Minggu, 29 Juli 2012
Malam #random
Rabu, 04 Juli 2012
Catatan Hari Ini
Minggu, 01 Juli 2012
Komersial Eksklusif
Rabu, 16 Mei 2012
Latar
Senin, 07 Mei 2012
Aku, Antonim
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)
Senin, 30 April 2012
Fals
Jumat, 20 April 2012
Pesimistis
Sabtu, 17 Maret 2012
Acrostics
Kamis, 01 Maret 2012
Random
Bohong
Aku sayang kamu. Bukan karena kemenanganku atas kepatahanmu yang kubuat, bukan karena pengakuanmu di kabisat kemarin, bukan hanya karena kamu sayang aku.
Aku sayang kamu. Tidak hanya di hari spesial satu tahun pertemuan kita, tidak hanya di momen spesial kita, tidak hanya saat kamu katakan kamu sayang aku.
Aku sayang kamu. Meskipun aku kurang percaya adanya hari spesial yang katanya membahagiakan itu. Ya, selalu berujung kurang memuaskan jika aku menganggapnya hari baik.
Aku sayang kamu. Mungkin harusnya kusamaratakan tiap detik. Mungkin harusnya tidak ada hari spesial, setiap detik dengan kamu itu spesial.
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)
Rabu, 29 Februari 2012
Kabisat

Kamu kalah! Sudah jauh lebih dalam dari patah. Ya, ada ungkapan lain yang lebih buruk dari itu? Aku, aku orangnya, yang akhirnya mematah-pipihkan semua muasalmu dan berhasil membalikkan kenyataanmu sebagai individualis tertutup dan egois perasa pahlawan perasaan. Semua menjadi antonim di tanganku. Kubalikkan. Aku menang. Kamu patah.
Hari ini, menjelang hari empat tahun sekali, kamu telah menyatakan bahwa akulah pengubahmu, pembalikmu, dan semoga akhirnya nanti aku yang jadi imam atas jalanmu. Tidak ingin mengucapkan selamat? HAHAHAHAHAHA. Aku sayang kamu. J
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)
Minggu, 26 Februari 2012
Malam Itu Benci
Those are the dew in the midnight, cross over the night city park
You couldn’t find what do you need by your breathin’ in the deep ocean
I’m freezing
Di antara sampah-sampah kota yang katamu tak suka kau lihat, berserakan tak karuan
Lalu pada punkers yang menggodamu saat kau berjalan di tempat yang kauanggap karpet merah
Saat itu yang kaugerutukan adalah salah jalan yang aku pilih, nyatanya kau telah percayakan aku sebagai pemilih jalan kita
Dan di bawah kulit terdapat bekuan kabut duapuluhenam derajat tanpa helai rindu sekalipun
Aku tetap tegak, ya setidaknya kau dorong aku untuk tetap bertahan berdiri
Mata itu lagi
Yang selalu aku agungkan di awal pertemuan itu
Di awal aku mulai membenci malam yang katamu aku bodoh
Yang patut kubenci harusnya pagi, karena pagi yang memisahkan kenangan luar biasa di malam hari
Lalu sekarang, sudah paham bagaimana aku membenci malam?
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)
Senin, 06 Februari 2012
Seperti Dua Hati
Ada satu
Atau dua
Yang terlihat memang satu
Atau dua?
Harusnya hanya satu
Mengapa seperti dua?
Aku satu
Kamu bukan dua, kan?
Lalu apa yang selama ini datang?
Satu
Atau dua
Yang penting tetap kamu
Dan aku
Bukan lainnya
Yang penting tetap satu
Aku
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)
Jumat, 03 Februari 2012
Kangen
Sayang, kamu di mana? Aku kangen kamu, aku duduk di sampingmu tapi itu bukan kamu. Itu bukan kamu. Sekali lagi, itu bukan seperti kamu.
Seperti kamu yang pernah mengajarkan aku bagaimana belajar menyukai bubur ayam; kamu yang pernah mengajarkan aku bagaimana belajar menulis, bukan hanya menulis biasa, tapi menulis seperti menggambarkan apa yang sedang aku rasakan; kamu yang pernah mengajarkan aku bagaimana menabung bahkan menghasilkan uang untuk menghidupi aku sendiri; kamu yang pernah mengajarkan aku untuk berpikir (bukan) (sok) dewasa; kamu yang pernah mengajarkan aku mengkoordinasi waktu dan menatanya untuk kerapian hariku; kamu.
Kamu di mana? Aku kangen kamu. Ini kamu, yang duduk di sampingku, tapi ini bukan kamu. Ini bukan kamu. Sekali lagi, ini bukan seperti kamu, sayang.
Seperti kamu yang selalu tertawa lepas saat apa yang kita pikirkan sama; seperti kamu yang selalu tertawa lepas saat aku melakukan hal paling bodoh, menurutmu, ya, dan katamu aku autis; seperti kamu yang selalu (tidak pernah lupa) menggelitik leher belakang atau pinggangku saat aku lengah, lalu aku nggondok sama kamu; seperti kamu yang selalu men-jambak rambutku dengan kekuatan penuh ala Power Rangers hingga aku mulai pusing, tapi aku tak pernah marah, karena memang aku suka; kamu.
Sayang, cepatlah pulang! Aku tidak sedang berbicara pada ragamu, tapi pada jiwamu. Kembalilah, pulanglah ke ragamu seperti biasa. Aku kangen kamu, sayang. Pulanglah!
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)
Selasa, 17 Januari 2012
Tanggung Jawabkan Rinduku
Ini buat kamu.
Hei, kamu, kan?
Kamu yang di sana, ya, kamu.
Kamu indah, meski sesekali menafsirkan mimpiku dengan, eh, hanya setengah dari mimpiku.
Tanpa kamu, dari mana aku bisa meraih sebuah tanya, bahwa aku harusnya bisa.
Ya, sepucuk amplop hijau berisi beasiswa, itu dari Tuhan, dan lewat semangatmu, kan?
Tanpa kamu, dari mana aku bisa meraih sebuah mimpi, bahwa aku memang bisa.
Bahkan aku tak pernah sebelumnya mencintai dunia menulis, kamu mengenalkannya padaku, dan maaf, aku lebih mencintainya dari padamu, mencintai menulis yang sangat baru untukku.
Senin, 16 Januari 2012
Tertinggal

Mau berkata apa lagi? Masih mau melawan? Kamu sudah patah sepatah-patahnya, sudah tenggelam jauh dalam jebakan yang sengaja kugali tengah dalam saat semua serigala sibuk menyusui bayi-bayinya. Masih mau mengelak? Kamu sudah hampir kalah, meski saat ini seharusnya sudah tidak seratus persen lagi. Kamu hanya perlu duduk menunggu kaleng-kaleng penadah tetesan hujan dari genting yang akan menjadi rumah baru oleh jentik-jentik nyamuk.
Ada yang kamu lupakan? Ya, kamu bahkan lupa mengucapkan salam perpisahan di hari saat kamu patah (lagi) (sudah berkali-kali). Ini patahmu yang ke-berapa? Aku harus mematahkan berapa lagi? Ini, aku akan masih tetap menyangga kelopak mata dengan batang korek, aku hanya butuh satu batang kecil itu. Tentunya dengan bantuan secangkir kopi hitam seperti biasa.
Baiklah. (Sebentar, aku meneguk kopi sejenak) Aku akan lanjutkan.
Sabtu, 14 Januari 2012
Lemah
Aku masih belum bisa mencerna apa yang sulit aku makan,
aku memang tak pernah melakukan yang terbaik
Ini yang kausebut menang?
Aku bahkan tak paham terhadap apa yang telah kuhirup,
saat itu aromanya sarapan pagi bumbu pecel
sementara aku belum memakan satu sentipun
Aku tidak berkata ini sudah habis, aku tidak berpihak pada malam
yang kini selalu bersahabat denganku,
mungkin tidak selalu, namun sering ia menengok aku di tengah sepiku
Bertukar hembus nafas yang akhirnya berembun pada lenguh
Beberapa detik aku menyapa pada gerimis yang menyertakan badai
lalu menyusul pada hujan deras dengan tangisan parau
Ini yang dinamakan kalbu?
Kepada angin aku berteriak
“AKU LAPAR!”
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)
Minggu, 08 Januari 2012
Ekspresif
Di sana aku sedang berpijak. Di tempat yang kamu bilang pijakan paling nyaman untukmu. Di tempat yang kamu bilang akan kamu kenalkan aku pada ibumu suatu saat nanti jika kamu siap. Maaf, sekali lagi.
Aku patahkan kamu lagi. Aku berhasil mengukir bekas tumpuan kakiku di rumahmu, yang kamu bilang tak akan siap mengajakku bercanda tawa saat ini. Kamu bilang, kelak, lekas, jika memang telah waktunya. Pun aku berhasil meraih kedua tangan kanan orang yang kamu cintai meski kamu beberapa kali dibuatnya memanen air mata. Ini seperti mimpi.
“Saat malam hatimu mencari dalam lelahmu memikirkanku. Namun aku yang ada di sini hanya terdiam dan membayangkan...
Seandainya kudapat menemanimu malam ini hilangkan sepi. Seharusnya ku ada di sisimu dan kuterjaga hingga kau terlelap mimpi...”
(The Titans – Seandainya.mp3)
Aku patahkan kamu, lagi-lagi lagi. Ya, sampai berkali-kali aku berhasil mematahkan satu-per-satu penamu. Ini bukan tanpa alasan. Ini yang harus aku lakukan, kupatahkan satu lalu selanjutnya lagi. Misiku memang itu, mematahkan hingga habis, lalu siap meminangmu di podium pernikahan kita, kelak. J
PS: Maaf mematahkan penamu lagi. Kali ini tintanya membekas di kakiku, dan sengaja kujejakkan di beranda rumahmu.
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

