NOW AVAILABLE! "DIALOG BISU"

Tampilkan postingan dengan label embun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label embun. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Desember 2012

Mayat Hidup


Selamat pagi, Embun. Cukup lama aku tak menyapamu, mungkin memang lama. Aku sedang sakit dan mungkin memang sedang kritis, aku terancam kehilangan beberapa organ tubuh vitalku; pandanganku mulai kabur dan tak lagi tajam, dokter bilang aku harus mencabut salah satu mataku atau kanker menjalar ke otak lalu aku menjadi mayat hidup; dokter bilang aku sedikit mati rasa, tak bisa lagi merasakan kesensitifan yang digadang-gadang oleh zodiakku sendiri bahwa aku adalah perasa ulung, aku harus mencabut satu-satunya hatiku; aku bahkan hampir tak bisa berpikir sempurna dan kehilangan daya abstraksi padahal ini adalah nilai tertinggi di tes IQ, iya, aku punya daya abstraksi yang terlampau tinggi dan itu hampir mati sekarang, dokter bilang aku harus memusnahkan otakku.

Selasa, 21 Agustus 2012

Kedai Pertemuan


Aku tak ingin mengingatnya, tidak
Entah tiba-tiba setelah kuperdengar dan kupahami sesaat,
lagu favoritku seakan melambangkannya

Dia seperti penerang malamku
Dia seperti penyejuk siangku
Dia tak kusangka dia balas pandanganku

Entah apa seperti itu yang pernah terjadi,
tapi yang pernah kubaca dari mana entah aku tak ingat,
momennya lebih indah dari itu, bagimu

Dia begitu jauh di mataku
Dia begitu jauh jangkauku
Dia tak kusangka dia balas senyumanku

Minggu, 29 Juli 2012

Malam #random

"Aku bertanya pada malam, apa aku masih hidup? Lalu terjawab lewat sebuah desiran angin yang berarti ini sudah pagi." #random
"Kemudian mulai merintik seberkas gerimis (lagi) dan aku masih diam. Ini gerimis. Ya, memang gerimis." #random
"Lewat sebuah catatan kecil yang kutemukan dalam kaleng berselimut tanah liat yang lembab, dan itulah aku dalam mesin waktu." #random
"INI SUDAH PAGI, DAN INI GERIMIS! Maaf, harus kutulis seperti itu karena mungkin tak terbaca oleh embun." #random
"Tak ada pembandingnya, yang terlihat hanya seberkas pantulan cahaya balmer di antara kabut yang semakin menjulang." #random
"Apa itu malam? Apakah pemisah waktu dan pengubah mimpi menjadi kenangan? Lalu mengapa ada malam jika pagi itu tak pernah indah?" #random


- Authorized by @maskriwul on Twitter's Timeline

(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Rabu, 04 Juli 2012

Catatan Hari Ini


Selamat petang, Embun.
Sedikit banyak, mungkin aku memahami isi hatimu kini,
jangan lupakan, kita satu.
Meski tak sebanyak yang aku tak tahu, aku mengerti tanpa menebak hatimu gundah.
Ya, sudah lama tak kupakai kata itu,
gundah.
Milikmu dalam pikiranmu sedang runyam,
rentan terhadap malam yang sepi.

Minggu, 01 Juli 2012

Komersial Eksklusif


Sudah sejak lama telah kutinggalkan jejak terakhirku di sudut kebun palem itu,
sejak segala intervensi mulai bereproduksi hingga beribu mata pun kaki tak bergeming untuk dihina
Mana malamku?
Atau, ini pagimu yang kaujanjikan indah itu?
Ah seperti sesuap nasi yang kuteguk di bawah sukun duabelas jam yang lalu,
semuanya lenyap
Pagimu, malamku, mataharimu, bulanku, embunmu, bintangku
Tak ada lagi yang sesuai

Rabu, 16 Mei 2012

Latar


Di tempat ini, di tempat saat ia bertemu laki-lakinya yang ia sebut berkacamata. Kali ini di sudut yang lain, sudut yang baru saja selesai direnovasi. Kami pernah beberapa kali (dan kami sering) menghabiskan waktu sia-sia kami di sini. Iya, saat tempat ini masih baru, mungkin terlalu baru, bahkan listrik dan lampu tak ada satupun yang mengalir. Masih sangat baru.
Berkali-kali orang mencoba mencoba mengalirkan arus listrik charger laptop atau ponsel mereka, selalu nihil karena tempat ini masih baru. Hampir setiap saat kami berlintas di sini, semua kecewa dan mengumpat kecil tanpa suara, hanya gerakan bibir saja. Iya, karena tak ada yang dapat dilakukan di sini kecuali hanya duduk, bercerita, dan itu. Gelap, pekat. Itu yang sering kami lakukan di tempat ini.
Malam ini, aku datang lagi dengannya, dengan seseorang yang kusebut sebagai pagi. Detik ini berbeda, segalanya telah berubah. Tempat ini, kulihat silau dari kejauhan 100 Km. Kutebak, semua mulai berfungsi. Terlihat sangat (lebih) nyaman karena segalanya masih baru, mungkin terlalu baru.
Namun, kami datang tak tepat untuk memerawani tempat ini, iya, ia sedang mengaliri sebuah kesedihan. Sedang jengah terhadap waktu, sejak masa kecil yang belum menemukan cahaya bijaksananya. Ia sedang kelam, hanya butuh relaksasi sesaat.
Sayangnya, malam ini belum tepat.

(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Senin, 07 Mei 2012

Aku, Antonim

Aku di sini di depannya,
namun yang terjadi tak ada dialog satu huruf pun
Itu aturan mainnya
Sayangnya, kita penaat aturan
Jauh lebih sakit saat benar-benar tak bertatap mata
Ah,
Semua mengenaliku dengan kamuflase yang kupunya,
yang menjijikkan
Ah,
Itu bukan aku!
Aku antonim dari semua penyamaran itu
Antonim,
Bahkan untuk melihat matamu, aku takut
Ah.


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Senin, 30 April 2012

Fals


Pagi
Masih setengah nyawa yang terkumpul
Ini sudah pagi
Seperti yang pernah kutulis beberapa jam yang lalu, pagi
Sudah sedikit naik ke penjuru langit-langit setelah aku tunaikan sholat subuh
Ini masih pagi
Aku hirup semuanya, semua spirit yang mungkin aku rasakan karena ini sudah pagi
Aku sedang rindu
Kepada dia yang sering kusebut embun dan embun
Di sini tak kutemuinya, panas, lembab, dan seperti asing meski harusnya familier
Aku rindu dia
Kepada dia yang kunamai embun
Kepada dia yang kuanalogikan embun
Embun
Bukan batu kapur

Pernah kuminum secangkir kopi hitam (seperti biasa) buatan ibu tadi malam
Iya, harusnya itu yang kupakai untuk begadang dan mengerjakan tugas negara
Nyatanya terabaikan hingga pagi ini
Rasanya sudah beda
Pagi
Ini sudah pagi
Ini masih tentang pagi, seperti yang pernah kutuliskan saat itu
Tentang rinduku pada embun
Embun
Bukan batu kapur

(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Jumat, 20 April 2012

Pesimistis


Aku tak ingin bermimpi lagi. Ah, buat apa aku bermimpi jika hanya untuk maya?
Iya, maya dan selalu menghilang.
Buat apa aku menggambar rencana jika hanya untuk gagal?
Iya, gagal dan selalu lenyap.
Dan sekali lagi, buat apa aku berkeinginan jika hanya untuk PATAH?
Iya! Aku sudah patah berkali-kali.

Buat apa aku menata semuanya? Lalu buat apa?
Kamu! Ya, itu alasanku untuk lanjutkan jalan di tempat ini
dengan semua guratan-guratan batin yang aku tulis sendiri di
tangan nadi.
Aku sedang sakit.

Dan kepada embun, aku kembali mengeluh
karena rindu pada lubang waktu
yang dulu aku siapkan.
Aku rindu tatapan mata malu-malu itu.

Ah...

(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Sabtu, 17 Maret 2012

Acrostics

Feel in the heaven
Anytime when you beside me.
Hear me...
My heart says,
I love you...

(Linda Astri Dwi Wulandari, 2012)


Lovin' you is so difficult.
It's not about the fairy tale story,
Not about the drama.
Did you know that I'm waiting for your answer,
And would you willing to marry me?

(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Kamis, 01 Maret 2012

Random

hgcengwnhefdyrtfkrjmhfdbavfdhfffgdfdhddddddhgwnxxbcvswndgfdnbdcvvjhetrhujrjushnfjtsdnhc
dbndgfdhf
uychgddhgbsnvcsjkxnlkdjhmmgnfbwgghjkhkjlkldjhyetdgfcgdhnahgssssssssssssshgfywhedftreteut6u357i87oyttrjkyfffffffffffffffffffffffff

PS: Kamu berhasil membuat aku menulis, lagi..

(Linda Astri Dwi Wulandari - Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Bohong

Aku sayang kamu. Bukan karena kemenanganku atas kepatahanmu yang kubuat, bukan karena pengakuanmu di kabisat kemarin, bukan hanya karena kamu sayang aku.

Aku sayang kamu. Tidak hanya di hari spesial satu tahun pertemuan kita, tidak hanya di momen spesial kita, tidak hanya saat kamu katakan kamu sayang aku.

Aku sayang kamu. Meskipun aku kurang percaya adanya hari spesial yang katanya membahagiakan itu. Ya, selalu berujung kurang memuaskan jika aku menganggapnya hari baik.

Aku sayang kamu. Mungkin harusnya kusamaratakan tiap detik. Mungkin harusnya tidak ada hari spesial, setiap detik dengan kamu itu spesial.


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Rabu, 29 Februari 2012

Kabisat

Kamu kalah! Sudah jauh lebih dalam dari patah. Ya, ada ungkapan lain yang lebih buruk dari itu? Aku, aku orangnya, yang akhirnya mematah-pipihkan semua muasalmu dan berhasil membalikkan kenyataanmu sebagai individualis tertutup dan egois perasa pahlawan perasaan. Semua menjadi antonim di tanganku. Kubalikkan. Aku menang. Kamu patah.

Hari ini, menjelang hari empat tahun sekali, kamu telah menyatakan bahwa akulah pengubahmu, pembalikmu, dan semoga akhirnya nanti aku yang jadi imam atas jalanmu. Tidak ingin mengucapkan selamat? HAHAHAHAHAHA. Aku sayang kamu. J


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Minggu, 26 Februari 2012

Malam Itu Benci

Those are the dew in the midnight, cross over the night city park

You couldn’t find what do you need by your breathin’ in the deep ocean

I’m freezing


Di antara sampah-sampah kota yang katamu tak suka kau lihat, berserakan tak karuan

Lalu pada punkers yang menggodamu saat kau berjalan di tempat yang kauanggap karpet merah

Saat itu yang kaugerutukan adalah salah jalan yang aku pilih, nyatanya kau telah percayakan aku sebagai pemilih jalan kita

Dan di bawah kulit terdapat bekuan kabut duapuluhenam derajat tanpa helai rindu sekalipun

Aku tetap tegak, ya setidaknya kau dorong aku untuk tetap bertahan berdiri


Mata itu lagi

Yang selalu aku agungkan di awal pertemuan itu

Di awal aku mulai membenci malam yang katamu aku bodoh

Yang patut kubenci harusnya pagi, karena pagi yang memisahkan kenangan luar biasa di malam hari

Lalu sekarang, sudah paham bagaimana aku membenci malam?


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Senin, 06 Februari 2012

Seperti Dua Hati

Ada satu

Atau dua

Yang terlihat memang satu

Atau dua?

Harusnya hanya satu

Mengapa seperti dua?

Aku satu

Kamu bukan dua, kan?

Lalu apa yang selama ini datang?

Satu

Atau dua

Yang penting tetap kamu

Dan aku

Bukan lainnya

Yang penting tetap satu

Aku


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Jumat, 03 Februari 2012

Kangen

Sayang, kamu di mana? Aku kangen kamu, aku duduk di sampingmu tapi itu bukan kamu. Itu bukan kamu. Sekali lagi, itu bukan seperti kamu.

Seperti kamu yang pernah mengajarkan aku bagaimana belajar menyukai bubur ayam; kamu yang pernah mengajarkan aku bagaimana belajar menulis, bukan hanya menulis biasa, tapi menulis seperti menggambarkan apa yang sedang aku rasakan; kamu yang pernah mengajarkan aku bagaimana menabung bahkan menghasilkan uang untuk menghidupi aku sendiri; kamu yang pernah mengajarkan aku untuk berpikir (bukan) (sok) dewasa; kamu yang pernah mengajarkan aku mengkoordinasi waktu dan menatanya untuk kerapian hariku; kamu.

Kamu di mana? Aku kangen kamu. Ini kamu, yang duduk di sampingku, tapi ini bukan kamu. Ini bukan kamu. Sekali lagi, ini bukan seperti kamu, sayang.

Seperti kamu yang selalu tertawa lepas saat apa yang kita pikirkan sama; seperti kamu yang selalu tertawa lepas saat aku melakukan hal paling bodoh, menurutmu, ya, dan katamu aku autis; seperti kamu yang selalu (tidak pernah lupa) menggelitik leher belakang atau pinggangku saat aku lengah, lalu aku nggondok sama kamu; seperti kamu yang selalu men-jambak rambutku dengan kekuatan penuh ala Power Rangers hingga aku mulai pusing, tapi aku tak pernah marah, karena memang aku suka; kamu.

Sayang, cepatlah pulang! Aku tidak sedang berbicara pada ragamu, tapi pada jiwamu. Kembalilah, pulanglah ke ragamu seperti biasa. Aku kangen kamu, sayang. Pulanglah!


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Selasa, 17 Januari 2012

Tanggung Jawabkan Rinduku


Ini buat kamu.

Hei, kamu, kan?

Kamu yang di sana, ya, kamu.

Kamu indah, meski sesekali menafsirkan mimpiku dengan, eh, hanya setengah dari mimpiku.

Tanpa kamu, dari mana aku bisa meraih sebuah tanya, bahwa aku harusnya bisa.

Ya, sepucuk amplop hijau berisi beasiswa, itu dari Tuhan, dan lewat semangatmu, kan?

Tanpa kamu, dari mana aku bisa meraih sebuah mimpi, bahwa aku memang bisa.

Bahkan aku tak pernah sebelumnya mencintai dunia menulis, kamu mengenalkannya padaku, dan maaf, aku lebih mencintainya dari padamu, mencintai menulis yang sangat baru untukku.

Senin, 16 Januari 2012

Tertinggal


Mau berkata apa lagi? Masih mau melawan? Kamu sudah patah sepatah-patahnya, sudah tenggelam jauh dalam jebakan yang sengaja kugali tengah dalam saat semua serigala sibuk menyusui bayi-bayinya. Masih mau mengelak? Kamu sudah hampir kalah, meski saat ini seharusnya sudah tidak seratus persen lagi. Kamu hanya perlu duduk menunggu kaleng-kaleng penadah tetesan hujan dari genting yang akan menjadi rumah baru oleh jentik-jentik nyamuk.

Ada yang kamu lupakan? Ya, kamu bahkan lupa mengucapkan salam perpisahan di hari saat kamu patah (lagi) (sudah berkali-kali). Ini patahmu yang ke-berapa? Aku harus mematahkan berapa lagi? Ini, aku akan masih tetap menyangga kelopak mata dengan batang korek, aku hanya butuh satu batang kecil itu. Tentunya dengan bantuan secangkir kopi hitam seperti biasa.

Baiklah. (Sebentar, aku meneguk kopi sejenak) Aku akan lanjutkan.

Sabtu, 14 Januari 2012

Lemah

Aku masih belum bisa mencerna apa yang sulit aku makan,

aku memang tak pernah melakukan yang terbaik

Ini yang kausebut menang?

Aku bahkan tak paham terhadap apa yang telah kuhirup,

saat itu aromanya sarapan pagi bumbu pecel

sementara aku belum memakan satu sentipun


Aku tidak berkata ini sudah habis, aku tidak berpihak pada malam

yang kini selalu bersahabat denganku,

mungkin tidak selalu, namun sering ia menengok aku di tengah sepiku

Bertukar hembus nafas yang akhirnya berembun pada lenguh


Beberapa detik aku menyapa pada gerimis yang menyertakan badai

lalu menyusul pada hujan deras dengan tangisan parau

Ini yang dinamakan kalbu?

Kepada angin aku berteriak

“AKU LAPAR!”


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Minggu, 08 Januari 2012

Ekspresif

Di sana aku sedang berpijak. Di tempat yang kamu bilang pijakan paling nyaman untukmu. Di tempat yang kamu bilang akan kamu kenalkan aku pada ibumu suatu saat nanti jika kamu siap. Maaf, sekali lagi.

Aku patahkan kamu lagi. Aku berhasil mengukir bekas tumpuan kakiku di rumahmu, yang kamu bilang tak akan siap mengajakku bercanda tawa saat ini. Kamu bilang, kelak, lekas, jika memang telah waktunya. Pun aku berhasil meraih kedua tangan kanan orang yang kamu cintai meski kamu beberapa kali dibuatnya memanen air mata. Ini seperti mimpi.


“Saat malam hatimu mencari dalam lelahmu memikirkanku. Namun aku yang ada di sini hanya terdiam dan membayangkan...

Seandainya kudapat menemanimu malam ini hilangkan sepi. Seharusnya ku ada di sisimu dan kuterjaga hingga kau terlelap mimpi...”

(The Titans – Seandainya.mp3)


Aku patahkan kamu, lagi-lagi lagi. Ya, sampai berkali-kali aku berhasil mematahkan satu-per-satu penamu. Ini bukan tanpa alasan. Ini yang harus aku lakukan, kupatahkan satu lalu selanjutnya lagi. Misiku memang itu, mematahkan hingga habis, lalu siap meminangmu di podium pernikahan kita, kelak. J


PS: Maaf mematahkan penamu lagi. Kali ini tintanya membekas di kakiku, dan sengaja kujejakkan di beranda rumahmu.


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)