NOW AVAILABLE! "DIALOG BISU"

Tampilkan postingan dengan label jancuk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jancuk. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Agustus 2014

Deskriptif Nonaktif


Selama di kota perantauan yang lain, aku sering berbalas BBM dengan salah satu kawan kuliahku dulu, Nadila. Perempuan berkerudung yang dulu kutahu suka dengan gaya casual dan sepatu sneaker. Dia sering menanyakan kabarku, mengirim pesan di BBM, menghubungiku lewat Skype, berbalas mention di Twitter, dan beberapa bentuk perhatian yang lain. Aku suka dengan perhatiannya.
Pertemuanku dengan Nadila di kedai susu di Kota Malang saat itu adalah yang pertama kali sejak dua tahun kami lulus kuliah. Tepatnya sejak kedekatan kami yang berawal hanya dari media-media sosial dan media maya. Kita sering menyebut sebagai kawan maya. Pertemuan yang sangat berkesan saat itu, dia tidak berubah dengan gaya khasnya yang dulu memang sempat kusuka.
Selain untuk show, salah satu alasanku menerima kembali pinangan untuk plesir ke Malang adalah ingin bertemu dengan Nadila. Entah, meski kami belum jelas berstatus apa -hanya dengan sebutan kawan maya- tapi ingin hati ini untuk menemuinya. Malam ini, setelah mengisi di workshop siang tadi, memang masih sedikit terbayang perempuan yang kukira adalah perempuan berkerudung ungu siang tadi. Aku sangat yakin itu dia. Entah mengapa tadi seperti dia tidak mendengar atau menangkap maksudku.

Rabu, 22 Januari 2014

Terlambat Sepersekian Detik

Pagi ini ia terbangun dengan sarapan yang terlalu awal. Ia melakukannya tak sesiang biasanya, sekitar pukul enam pagi. Biasanya, ia habiskan sarapannya dengan susah payah sejak pukul setengah satu tengah hari. Terlalu terlambat? Tidak, ia biasa melakukannya. Katanya, perutnya tak biasa mencerna kumpulan makanan-makanan di waktu-waktu yang terlalu dini. Aneh memang, karena orang-orang butuh asupan untuk tabungan energi melakukan aktifitas harian dan memang ia bukan sebagian orang pada umumnya. Ia tak pernah melakukan apapun. Ya, ia tak pernah melakukan apapun sejak kepergian kekasihnya menuju negara lain yang berjarak dua blok dari tempatnya tinggal.
Anehnya, pagi ini ia melawan pantangan itu. Ia nekat melahap nasi demi nasi sedini mungkin karena tak kuat menahan tangis sedih kerinduan pada kekasihnya. Ia paksakan menenggak obat-obat penenang seperti biasanya yang sering ia sebut sebagai alat untuk melupakan kesendiriannya dan kerinduan yang semakin sulit dibendung. Komunikasi sulit menjadi salah satu sebab atas alasannya breaking the habbit.

Selasa, 14 Januari 2014

Aku Tak Suka Hujan

Siang itu sengaja kubangunkan kesadaranku tak sepagi biasanya. Dan sialnya, hujan dan hujan lagi seperti lima hari yang lalu sebelum aku datang ke sini. Lima hari yang lalu, hujan datang tujuh kali duapuluh empat jam nonstop dan menghiasi jalanan desa dengan lempung-lempung cokelat muda hasil tanah yang basah secara rutin. Lempung-lempung itu rupanya tak hanya mengaliri jalanan becek yang masih minim aspal di desa ini, namun terlalu parah hingga serta-merta mengeruhkan air laut dan sesekali membawa sampah yang terseret sampai ke pesisir pantai. Suasana lima hari yang lalu mampu kugambarkan secara klise menurut kabar yang kudengar dari beberapa penduduk lokal.
Pantai Ngliyep, Kabupaten Malang, 2014

Rabu, 26 Desember 2012

Mayat Hidup


Selamat pagi, Embun. Cukup lama aku tak menyapamu, mungkin memang lama. Aku sedang sakit dan mungkin memang sedang kritis, aku terancam kehilangan beberapa organ tubuh vitalku; pandanganku mulai kabur dan tak lagi tajam, dokter bilang aku harus mencabut salah satu mataku atau kanker menjalar ke otak lalu aku menjadi mayat hidup; dokter bilang aku sedikit mati rasa, tak bisa lagi merasakan kesensitifan yang digadang-gadang oleh zodiakku sendiri bahwa aku adalah perasa ulung, aku harus mencabut satu-satunya hatiku; aku bahkan hampir tak bisa berpikir sempurna dan kehilangan daya abstraksi padahal ini adalah nilai tertinggi di tes IQ, iya, aku punya daya abstraksi yang terlampau tinggi dan itu hampir mati sekarang, dokter bilang aku harus memusnahkan otakku.

Minggu, 28 Oktober 2012

Sajak Hujan

"Aku sudah pulang, Hujan.."
Aku pulang, di tanah Surabaya aku merasa telah meninggalkan hiruk pikuk super sibuk keseharian di tanah berjarak 90 kilometer. Sudah sangat gontai, sudah merasa penat teramat dan memang kubutuh rehat. Sudah sangat lemah dihunus kedinginan kota kecil yang bukan adaptasiku sejak lahir, iya, aku butuh panas untuk menetralisir.
Aku sudah pulang, aku sudah di tanah Surabaya. Aku kembali dengan sengaja melepas seluruh tracking bag bahkan aku datang bertelanjang kaki agar benar-benar steril. Dengan balutan secangkir kopi, sekali lagi kucoba memutar perlahan mesin waktu di tengah kota metropolitan mantan calon ibukota pengganti ini. Taman Bungkul, Balai Pemuda Surabaya, Monumen Bambu Runcing, Jembatan Plasa Surabaya, Makam Cina Kembang Kuning, Lokalisasi Dolly, Kebun Binatang Surabaya, Tunjungan Plaza.

Senin, 22 Oktober 2012

Resolusi Gelas Kaca



Gelas kaca berlengan lumpuh pasca berlarian pagi
dengan pujaan hatinya meskipun tak tersampaikan kekagumannya,
dan dia berkeringat
Aku memberanikan diri untuk menyapanya,
dia hanya tersenyum menyimpulkan balasan
pada paras lesuku
Aku kasihan padanya,
tak pernah menyampaikan gelak rasanya
untuk kagumnya
Aku miris padanya,
kagumnya hanya sering berceloteh
tentang kagum yang lain, bukan padanya
Miris, bukan?
Dan dia semakin berkeringat,
lambat laun semakin luluh
dan kemudian lantah
Namun aku hanya sedang bercermin

(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Kamis, 04 Oktober 2012

Kamu Datang, Kembali



Hai, hujan. Selamat datang kembali. Aku menyambutmu dengan sedikit ragu, kaukah pembawa kecewa dan luka itu? Sudah berapa lama kamu meninggalkan tanah ini? Sekarang datang dengan tiba-tiba? Ah, aku salah. Kamu telah menyiapkan kedatanganmu beberapa hari sebelum akhirnya turun hari ini. Sudah kamu tunjukkan pertandamu sebelum kamu turun hari ini. Selamat datang kembali, hujan.

(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Tak Bersisa


Sudah serba bisu. Sekarang aku mulai buta, sama, menyerupai identik dengan beberapa detik yang lalu saat kuputuskan untuk berhenti menuang tinta pada air mata. Sekarang sudah serba diam, sudah benar-benar mati atau bagaimana? Mungkin memang semua masih serba dilema, di ujung tanduk. Bahkan untuk menentukan seberapa jengahnya aku pada malam telah punah, aku tidak lagi pandai menumpahkan darah-darah pendonor yang tak mengerti permasalahanku. Sudah habis, benar-benar habis. Aku masih menulis tanpa ritme, tanpa tema, iya, aku tahu aku akan ditegur guruku. Ini memang salah, sebuah tulisan tanpa tema. Bisa kalian temukan?
Aku sudah habis. Sekali lagi habis.

(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Senin, 17 September 2012

Ah


"Masih belum bisa menjadi benar."
"Aku memang hilang. Selamanya. Jadi siapa yang sempat mengejarmu meski hanya berkaki satu?"
"Aku memang hilang. Selamanya. Dan siapa yang sempat kaucaci dan tertampar tanganmu sambil berlari mengejarmu?"
"Aku bukan aku yang kamu kenal pertama kali. Lalu siapa yang... Ah pasti bukan aku. "
"Bahkan saat sekarang telah menembus angka 600 followers, masih seperti 0 followers tanpa akun kamu."

(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Senin, 09 Juli 2012

(Bukan) Laki-laki Berkacamata


Mataku mulai rabun, mulai gagal kusorot lampu neon yang telah meredup di depan kamarku. Ah, ini terlalu gelap. Pun gagal kucari lilin kecil berbentuk angka dua dan nol bekas tar ulang tahunku beberapa jam yang lalu, meskipun harusnya hanya bersisa dua lilin itu yang bisa kupakai sebagai penerangan. Lalu, aku harus apa?
Kuraba perlahan tiap sudut kamarku, kuraba perlahan meja belajar yang hampir setinggi pinggulku. Tak kutemukan apapun yang bisa kupakai untuk mengubah penerangan. Mulai panik. Kemudian aku mengubah target pencarian, ya, sekarang yang kucari adalah gelas plastik kuning dan sebotol aqua untuk meredakan keringat. Kuteguk, seteguk, dua, dan tegukan ketiga lalu kusandarkan gelas disampingku.
Duduk, aku mulai blank. Coba saja bayangkan, dan juga jika bisa aku bertanya, apa yang harus aku lakukan di suasana pekat ini? Hanya bisa duduk. Warna merah-hitam sprei kasurku tentu ternetralisir gelap. Lagi, kuraba perlahan meja belajar di depanku. Tentu, kucari kacamata yang biasa kupakai saat kupaksa mataku untuk beraktifitas. Gotcha! Secepat itu kutemukan kacamataku demi mempersingkat sajak ini. Kupakai. Tak ada efek signifikan. Tetap saja gelap, dan aku mulai terlihat bodoh dengan memaksa dapat melihat dalam pekat dengan kacamata andalanku.

Kamis, 31 Mei 2012

Surabaya Sudah Tua


Sparkling Surabaya - Surabaya Traditional Dance



Persebaya Football Club - Surabaya Best Football Club

Untuk Surabaya
Untuk yang kata mereka tentang kekerasan
Untuk yang kata mereka tentang kekasaran
Untuk yang kata mereka tentang kebrutalan
Untuk yang kata mereka semua tentang keburukan

Untuk Surabaya
Untuk yang kata mereka nilai kota tak berbudaya
Untuk yang kata mereka nilai “Jancuk” adalah sebuah dosa
Untuk yang kata mereka nilai “Dolly” adalah simbol ke-mesum-an kota
Untuk yang kata mereka nilai “Bonek” adalah manusia-manusia gila