NOW AVAILABLE! "DIALOG BISU"

Tampilkan postingan dengan label matahari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label matahari. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Januari 2014

Bapakmu Cinta Aku, Le!

Sambil memakan potongan-potongan nangka yang ditanamnya sendiri di tanah belakang rumah yang beberapa orang percaya itu bekas salah satu pertempuran jaman penjajahan Belanda, ia membawa bayinya ke depan balkon setelah memandikannya. Sekitar pukul tujuh waktu bagian pagi, matahari yang masih relatif hangat kemudian siap menyehatkan bayinya. Iya, jam segini saatnya bayi untuk caring. Lewat obrolan dengan suara lirihnya, ia tetap mengajak mengobrol bayinya meskipun mustahil akan dijawab atau minimal direspon. Sesekali ia selipkan nama bayinya di tengah obrolannya sambil berharap kelak bayinya akan bisa menghafal namanya yang sedikit panjang dan cukup rumit.

Jumat, 17 Agustus 2012

Indescribable

Buka Puasa Bersama
Kabinet BEM FIB Bersatu 2012
Aku mulai membangunnya lagi, membangun semua yang katamu telah runtuh berkeping-keping bak amuba yang membelah diri. Bata demi bata kususun ulang meski matahari mulai meredup sore ini, meski penagih utang yang sejak beberapa minggu yang lalu telah menodongku dengan tagihan kasbon berlimpah. Aku benar ingin kembali, mencintaimu sesulit menjaga ketenangan genangan air ba’da hujan kemarin sore. Rumit.

Minggu, 01 Juli 2012

Komersial Eksklusif


Sudah sejak lama telah kutinggalkan jejak terakhirku di sudut kebun palem itu,
sejak segala intervensi mulai bereproduksi hingga beribu mata pun kaki tak bergeming untuk dihina
Mana malamku?
Atau, ini pagimu yang kaujanjikan indah itu?
Ah seperti sesuap nasi yang kuteguk di bawah sukun duabelas jam yang lalu,
semuanya lenyap
Pagimu, malamku, mataharimu, bulanku, embunmu, bintangku
Tak ada lagi yang sesuai

Rabu, 04 April 2012

Mosaik

Aku ini siapa? Masihkah aku tetap sama?

Sama dengan aku yang masih sampah dan bekas

Sama dengan aku ketika masih tak berpakaian dalam dan berdiri di tepi mimpi

Sama dengan mereka di rumah lonte yang menjajakan keperawanannya

Apa aku (masih) sama?


Aku ini siapa? Aku kehilangan aku

Kehilangan ke mana aku bermimpi

Ketika itu aku mengadu pada palang tebing, aku rindu sore

Di tengah peraduan tenggelam matahari pukul enam petang

Di sana aku masih mengais puntung-puntung harapan yang pernah aku gambarkan

Memanfaatkan celana dalam bekas darah menstruasi pekerja seks yang memaksa bekerja

Aku ini (masih) siapa?


Aku rindu

Di alam baru itu, aku membaca pelangi-pelangi yang lebih berfragmen

Di sini lebih bermosaik

Ah, aku tetap aku

Harusnya aku tetap aku

Patahkan aku

Silakan


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Sabtu, 17 Maret 2012

Acrostics

Feel in the heaven
Anytime when you beside me.
Hear me...
My heart says,
I love you...

(Linda Astri Dwi Wulandari, 2012)


Lovin' you is so difficult.
It's not about the fairy tale story,
Not about the drama.
Did you know that I'm waiting for your answer,
And would you willing to marry me?

(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Kamis, 01 Maret 2012

Random

hgcengwnhefdyrtfkrjmhfdbavfdhfffgdfdhddddddhgwnxxbcvswndgfdnbdcvvjhetrhujrjushnfjtsdnhc
dbndgfdhf
uychgddhgbsnvcsjkxnlkdjhmmgnfbwgghjkhkjlkldjhyetdgfcgdhnahgssssssssssssshgfywhedftreteut6u357i87oyttrjkyfffffffffffffffffffffffff

PS: Kamu berhasil membuat aku menulis, lagi..

(Linda Astri Dwi Wulandari - Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Rabu, 29 Februari 2012

Kabisat

Kamu kalah! Sudah jauh lebih dalam dari patah. Ya, ada ungkapan lain yang lebih buruk dari itu? Aku, aku orangnya, yang akhirnya mematah-pipihkan semua muasalmu dan berhasil membalikkan kenyataanmu sebagai individualis tertutup dan egois perasa pahlawan perasaan. Semua menjadi antonim di tanganku. Kubalikkan. Aku menang. Kamu patah.

Hari ini, menjelang hari empat tahun sekali, kamu telah menyatakan bahwa akulah pengubahmu, pembalikmu, dan semoga akhirnya nanti aku yang jadi imam atas jalanmu. Tidak ingin mengucapkan selamat? HAHAHAHAHAHA. Aku sayang kamu. J


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Senin, 06 Februari 2012

Seperti Dua Hati

Ada satu

Atau dua

Yang terlihat memang satu

Atau dua?

Harusnya hanya satu

Mengapa seperti dua?

Aku satu

Kamu bukan dua, kan?

Lalu apa yang selama ini datang?

Satu

Atau dua

Yang penting tetap kamu

Dan aku

Bukan lainnya

Yang penting tetap satu

Aku


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Jumat, 03 Februari 2012

Kangen

Sayang, kamu di mana? Aku kangen kamu, aku duduk di sampingmu tapi itu bukan kamu. Itu bukan kamu. Sekali lagi, itu bukan seperti kamu.

Seperti kamu yang pernah mengajarkan aku bagaimana belajar menyukai bubur ayam; kamu yang pernah mengajarkan aku bagaimana belajar menulis, bukan hanya menulis biasa, tapi menulis seperti menggambarkan apa yang sedang aku rasakan; kamu yang pernah mengajarkan aku bagaimana menabung bahkan menghasilkan uang untuk menghidupi aku sendiri; kamu yang pernah mengajarkan aku untuk berpikir (bukan) (sok) dewasa; kamu yang pernah mengajarkan aku mengkoordinasi waktu dan menatanya untuk kerapian hariku; kamu.

Kamu di mana? Aku kangen kamu. Ini kamu, yang duduk di sampingku, tapi ini bukan kamu. Ini bukan kamu. Sekali lagi, ini bukan seperti kamu, sayang.

Seperti kamu yang selalu tertawa lepas saat apa yang kita pikirkan sama; seperti kamu yang selalu tertawa lepas saat aku melakukan hal paling bodoh, menurutmu, ya, dan katamu aku autis; seperti kamu yang selalu (tidak pernah lupa) menggelitik leher belakang atau pinggangku saat aku lengah, lalu aku nggondok sama kamu; seperti kamu yang selalu men-jambak rambutku dengan kekuatan penuh ala Power Rangers hingga aku mulai pusing, tapi aku tak pernah marah, karena memang aku suka; kamu.

Sayang, cepatlah pulang! Aku tidak sedang berbicara pada ragamu, tapi pada jiwamu. Kembalilah, pulanglah ke ragamu seperti biasa. Aku kangen kamu, sayang. Pulanglah!


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Sabtu, 28 Januari 2012

Cemburu

Ini apa? Aku kehilangan sinarmu malam ini, bulan. Atau karena kamu hanya datang menyabit mendung yang beberapa hari ini sengaja menguasai kerajaan angin. Sedikit kaget, sekitar empat puluh kilometer per jam! Aku terhuyung ke sana ke mari sama seperti saat pemikiranku terarus pada mata air. Aku tak suka menjadi lebih baik dari yang buruk. Ya, aku hanya akan mencintai jika aku menjadi yang terbaik di antara yang lebih baik.

Aku hanya ingin berdiri di antara gusaran debu yang di bawa angin sore ini, ah aku bosan jika hanya bisa memendam rasa pada tanah liat. Kukira tak akan tumbuh meski beberapa hari ini hujan masih turun, meski beberapa waktu terjadi pancaroba sesaat antara panas dan gerimis. Ini apa?

Aku mulai letih ketika mata tak terbendung lagi oleh secangkir, dua cangkir kopi hitam seperti biasa. Aku rindu pada malam itu, ketika kubasuh wajah dengan butiran lembut yang menghitam legam pada malam. Aku cemburu pada bulan yang beberapa hari ini berkuasa tanpa bintang dan lainnya. Aku sedikit tertampar oleh suasana hati yang terdengar risau.

Ini apa? Aku kepada jumlah tetesan darah yang sengaja juga kusayat sore itu. Aku ingin bertanya pada senja, sedang apa dia di sana? Tidurkah? Siapa yang memeluknya di antara dingin matahari malam? Bukankah harusnya aku yang memakan gelap ketika peluru menghunus mata dan mengecup keningmu?

Sayang, aku cemburu.


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Selasa, 17 Januari 2012

Tanggung Jawabkan Rinduku


Ini buat kamu.

Hei, kamu, kan?

Kamu yang di sana, ya, kamu.

Kamu indah, meski sesekali menafsirkan mimpiku dengan, eh, hanya setengah dari mimpiku.

Tanpa kamu, dari mana aku bisa meraih sebuah tanya, bahwa aku harusnya bisa.

Ya, sepucuk amplop hijau berisi beasiswa, itu dari Tuhan, dan lewat semangatmu, kan?

Tanpa kamu, dari mana aku bisa meraih sebuah mimpi, bahwa aku memang bisa.

Bahkan aku tak pernah sebelumnya mencintai dunia menulis, kamu mengenalkannya padaku, dan maaf, aku lebih mencintainya dari padamu, mencintai menulis yang sangat baru untukku.

Minggu, 08 Januari 2012

Ekspresif

Di sana aku sedang berpijak. Di tempat yang kamu bilang pijakan paling nyaman untukmu. Di tempat yang kamu bilang akan kamu kenalkan aku pada ibumu suatu saat nanti jika kamu siap. Maaf, sekali lagi.

Aku patahkan kamu lagi. Aku berhasil mengukir bekas tumpuan kakiku di rumahmu, yang kamu bilang tak akan siap mengajakku bercanda tawa saat ini. Kamu bilang, kelak, lekas, jika memang telah waktunya. Pun aku berhasil meraih kedua tangan kanan orang yang kamu cintai meski kamu beberapa kali dibuatnya memanen air mata. Ini seperti mimpi.


“Saat malam hatimu mencari dalam lelahmu memikirkanku. Namun aku yang ada di sini hanya terdiam dan membayangkan...

Seandainya kudapat menemanimu malam ini hilangkan sepi. Seharusnya ku ada di sisimu dan kuterjaga hingga kau terlelap mimpi...”

(The Titans – Seandainya.mp3)


Aku patahkan kamu, lagi-lagi lagi. Ya, sampai berkali-kali aku berhasil mematahkan satu-per-satu penamu. Ini bukan tanpa alasan. Ini yang harus aku lakukan, kupatahkan satu lalu selanjutnya lagi. Misiku memang itu, mematahkan hingga habis, lalu siap meminangmu di podium pernikahan kita, kelak. J


PS: Maaf mematahkan penamu lagi. Kali ini tintanya membekas di kakiku, dan sengaja kujejakkan di beranda rumahmu.


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Selasa, 06 Desember 2011

38 Jam


Untuk 38 jam itu

Aku dan kamu

Aku dan pagi

Aku dan embun

Aku dan sampah

Aku dan dhuha

Aku dan terik

Aku dan siang

Aku dan matahari

Aku dan letih

Aku dan asa

Aku dan sore

Aku dan penat

Aku dan after hour

Aku dan kelam

Aku dan Venus

Aku dan senja

Aku dan jingga

Aku dan kabut

Aku dan dingin

Aku dan beku

Aku dan malam

Aku dan bulan

Aku dan bintang

Aku dan dini hari

Aku dan nol derajat

Aku dan tidur

Aku dan terjaga

Aku dan mimpi

Aku dan kokok

Aku dan subuh

Aku dan fajar

Aku dan embun

Sampai 38 jam berikutnya


PS: Ini hari bahagiaku, namun mungkin bukan untukmu


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2011)

Minggu, 27 November 2011

Titik Lebur Air Mata

Jadi, ini hari burukmu, ya?

Pasti karena aku melantunkan lagu kematian di tiap desir telingamu

Atau karena aku rajin menyapu gembiramu dan membuangnya ke tong sampah?

Mungkin sedikit olesan emosi yang kamu tuangkan dalam madu pagimu

Itu yang sedikit mematikan jera yang kamu rasakan

Ya, jera


Ini pasti hari burukmu

Bisa aku melihatnya dalam tiap detik jalanmu

Pagi

Siang

Sore

Malam


Aku sangat yakin

Ini hari burukmu

Kamu melipat segala senyum di tiap detil tubuhmu

Embun pagi

Matahari siang

Venus sore

Bulan petang

Bintang malam

Ya, di tiap satu momenmu, kamu melenguh sakit


Tapi hanya malam ini, aku bisa merasakan indahnya ungkapanmu

Indah, karena tak pernah semudah biasanya untuk kudapat

Indah, menanti sepanjang hari untuk keluarkan hibahnya

Indah sekali


Hari burukmu,ya?

Dan hari ini aku mulai belajar mencintai malam


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2011)

Selasa, 22 November 2011

Hermeneutika

Harus dijelaskan, ya?

Seberapa dominan rasaku pada embun, seberapa luas lautku untuk pagi?

Harus diteliti, ya?

Seberapa dalam hatiku untuk matahari dhuha, seberapa tinggi pandanganku pada sinarmu?


Semua tak perlu kujabarkan hingga terkemuka beberapa rumus tak penting

Ketika lidah kelu menyapa angin sepoi

Saat itu embun sedang cacat, ia datang dengan pincang lalu tumpang

Tenggelam di antara titik-titik gerimis dingin yang memusingkan ubun-ubun


Lalu masih perlukah untuk kujelaskan naskah di atas penelitian?

Haruskah kujelaskan lagi?

Aku cinta kamu

Titik

Tidak ada penjelasan lagi


PS: Mungkin kausebut rabu itu kulupakan. Namun tak pernah kulupakan di tiap kamis pagi itu, kita.


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2011)

Rabu, 02 November 2011

Seperti Embun, Seperti Matahari

“Kita seperti embun dan matahari, aku menyejukkanmu dan kamu menghangatkan aku. Tidak ada pagi yang cerah tanpa kita.”


Aku mencintaimu, embun

Pagi buta, kaucuri start di saat semua sedang lelap

Telah berkeliaran membasahi daun-daun malam

Menjaga tidur budak-budak bangsa, mungkin mencoba hapus lelah mereka

Bekukan air mata bekas tangis derita penyesalan semalam

Aku rindu Ibu, juga rindu betapa panasnya tempat lahirku

Embun,

Bedakan cuaca dengan tempat lahirku

Embun beku tak lagi sekadar sejuk lalu mematikanku dengan satu rasa

Cinta


Kau mencintaiku, matahari

Seperti pelumpuh dingin di gelap fajar, di tengah subuh saat kaubasuh air wudhu

Setengah dari pagi ini kauhangatkan dengan api besar yang tak tampak hebat

Ya, sangat remeh dan terlihat setitik kuman dari tempat kita berdiri

Jangan remehkan!

Coba saja menatapnya mata telanjang, tak kujamin matamu bertahan hidup-hidup

Segala yang tercipta tumbuh darinya, matahari

Kita berhenti melangkah jika matahari tak berkobar dengan lantang

Matahari,

Aku rindu

Hangat pelumpuh beku tak pernah gagal menorehkan satu rasa

Cinta


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2011)

Senin, 24 Oktober 2011

Sunshine

Matahari memanggil

Sangat hangat membakar mimpi pagi di tengah liur ludah yang tertuang

Aku masih terlelap

Belum ingin terjaga


Lalu matahari memanggil, sekali lagi

Menampik selimut yang sengaja kurapatkan, kuhindari embun

Ya, embun memang jahat, tak pernah mengerti pagiku yang hangat

Matahari, muncul, bangun


Sunshine

Shining

Every single second

When I closed my eyes last night, and I greeted the moon

The moon was smiling to me

Closed my eyes slowly

And I’ve died last night


Ini seakan kehidupan lainku

Kini aku sebagai matahari

Aku

Hangatkan

Someone inside that window...


#np Garasi - Sunshine


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2011)

Sabtu, 09 April 2011

Senyap

Senyap menyergap namun tak kunjung terlelap karena tertutup awan gelap yang memaksa mata terjaga tak sekejap, lalu menyita angin hingga gemerlap bulan tak berucap.
Kau tahu?
Bintang sedang terperangkap dan aku tak bisa terlelap dalam gelap.
Dan ketika surya mulai mengerling, mengintip di balik fajar pun mataku akan tetap terjaga sampai kutemui sebuah jawaban dari harapku.
Aku bahkan tak percaya sang surya akan datang esok!
Awan terlalu pekat, mungkin sampai esok pun tetap gelap.
Adakah jawab untuk harap yang tak terungkap, untuk harap yang maya, untuk harap yang bahkan tak mampu kuceritakan saat terang, terlebih lagi saat pekat?

Senin, 20 Desember 2010

Mencoba Berpaling Dari Hujan

Aku masih tenggelam dalam asaku.
Kutengok, satu nol dua, tentu telah larut.
Kuhirup segalanya, mencoba mencari penyegaran pikiran.
Justru aku tak tahu apa yang harus terjadi, aku diam.
Malam bertanya padaku, harusnya aku memang terlelap.

Rabu, 27 Oktober 2010

Aku Datang Karena Mereka Butuh

Awan bertanya pada matahari, “Bolehkah aku mengajak hujan bermain bersamaku?” Dan matahari menjawab dengan tegas, “Belum waktunya. Sekarang waktu masih milikku.”
Awan berpikir, “Ya, matahari memang raja di siang hari. Dan aku selalu hanya terdiam, karena hanya ia yang berkuasa.”
Awan berkata pada hujan, “Hei, aku ingin bermain bersamamu. Namun matahari berkehendak lain. Ia berpikir, siang hari adalah miliknya.” Dengan tenang hujan pun menjawab, “Masih ada waktu.”
Malam hari, awan bertanya pada bulan, “Bolehkah aku memanggil hujan? Aku ingin bermain dengannya.” Bulan pun menjawab, “Kupikir, ini saatnya aku berdiri seorang diri di atas langit. Bukan begitu?”