Selasa, 28 Januari 2014
Bapakmu Cinta Aku, Le!
Jumat, 17 Agustus 2012
Indescribable
| Buka Puasa Bersama Kabinet BEM FIB Bersatu 2012 |
Minggu, 01 Juli 2012
Komersial Eksklusif
Rabu, 04 April 2012
Mosaik
Aku ini siapa? Masihkah aku tetap sama?
Sama dengan aku yang masih sampah dan bekas
Sama dengan aku ketika masih tak berpakaian dalam dan berdiri di tepi mimpi
Sama dengan mereka di rumah lonte yang menjajakan keperawanannya
Apa aku (masih) sama?
Aku ini siapa? Aku kehilangan aku
Kehilangan ke mana aku bermimpi
Ketika itu aku mengadu pada palang tebing, aku rindu sore
Di tengah peraduan tenggelam matahari pukul enam petang
Di sana aku masih mengais puntung-puntung harapan yang pernah aku gambarkan
Memanfaatkan celana dalam bekas darah menstruasi pekerja seks yang memaksa bekerja
Aku ini (masih) siapa?
Aku rindu
Di alam baru itu, aku membaca pelangi-pelangi yang lebih berfragmen
Di sini lebih bermosaik
Ah, aku tetap aku
Harusnya aku tetap aku
Patahkan aku
Silakan
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)
Sabtu, 17 Maret 2012
Acrostics
Kamis, 01 Maret 2012
Random
Rabu, 29 Februari 2012
Kabisat

Kamu kalah! Sudah jauh lebih dalam dari patah. Ya, ada ungkapan lain yang lebih buruk dari itu? Aku, aku orangnya, yang akhirnya mematah-pipihkan semua muasalmu dan berhasil membalikkan kenyataanmu sebagai individualis tertutup dan egois perasa pahlawan perasaan. Semua menjadi antonim di tanganku. Kubalikkan. Aku menang. Kamu patah.
Hari ini, menjelang hari empat tahun sekali, kamu telah menyatakan bahwa akulah pengubahmu, pembalikmu, dan semoga akhirnya nanti aku yang jadi imam atas jalanmu. Tidak ingin mengucapkan selamat? HAHAHAHAHAHA. Aku sayang kamu. J
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)
Senin, 06 Februari 2012
Seperti Dua Hati
Ada satu
Atau dua
Yang terlihat memang satu
Atau dua?
Harusnya hanya satu
Mengapa seperti dua?
Aku satu
Kamu bukan dua, kan?
Lalu apa yang selama ini datang?
Satu
Atau dua
Yang penting tetap kamu
Dan aku
Bukan lainnya
Yang penting tetap satu
Aku
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)
Jumat, 03 Februari 2012
Kangen
Sayang, kamu di mana? Aku kangen kamu, aku duduk di sampingmu tapi itu bukan kamu. Itu bukan kamu. Sekali lagi, itu bukan seperti kamu.
Seperti kamu yang pernah mengajarkan aku bagaimana belajar menyukai bubur ayam; kamu yang pernah mengajarkan aku bagaimana belajar menulis, bukan hanya menulis biasa, tapi menulis seperti menggambarkan apa yang sedang aku rasakan; kamu yang pernah mengajarkan aku bagaimana menabung bahkan menghasilkan uang untuk menghidupi aku sendiri; kamu yang pernah mengajarkan aku untuk berpikir (bukan) (sok) dewasa; kamu yang pernah mengajarkan aku mengkoordinasi waktu dan menatanya untuk kerapian hariku; kamu.
Kamu di mana? Aku kangen kamu. Ini kamu, yang duduk di sampingku, tapi ini bukan kamu. Ini bukan kamu. Sekali lagi, ini bukan seperti kamu, sayang.
Seperti kamu yang selalu tertawa lepas saat apa yang kita pikirkan sama; seperti kamu yang selalu tertawa lepas saat aku melakukan hal paling bodoh, menurutmu, ya, dan katamu aku autis; seperti kamu yang selalu (tidak pernah lupa) menggelitik leher belakang atau pinggangku saat aku lengah, lalu aku nggondok sama kamu; seperti kamu yang selalu men-jambak rambutku dengan kekuatan penuh ala Power Rangers hingga aku mulai pusing, tapi aku tak pernah marah, karena memang aku suka; kamu.
Sayang, cepatlah pulang! Aku tidak sedang berbicara pada ragamu, tapi pada jiwamu. Kembalilah, pulanglah ke ragamu seperti biasa. Aku kangen kamu, sayang. Pulanglah!
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)
Sabtu, 28 Januari 2012
Cemburu
Ini apa? Aku kehilangan sinarmu malam ini, bulan. Atau karena kamu hanya datang menyabit mendung yang beberapa hari ini sengaja menguasai kerajaan angin. Sedikit kaget, sekitar empat puluh kilometer per jam! Aku terhuyung ke sana ke mari sama seperti saat pemikiranku terarus pada mata air. Aku tak suka menjadi lebih baik dari yang buruk. Ya, aku hanya akan mencintai jika aku menjadi yang terbaik di antara yang lebih baik.
Aku hanya ingin berdiri di antara gusaran debu yang di bawa angin sore ini, ah aku bosan jika hanya bisa memendam rasa pada tanah liat. Kukira tak akan tumbuh meski beberapa hari ini hujan masih turun, meski beberapa waktu terjadi pancaroba sesaat antara panas dan gerimis. Ini apa?
Aku mulai letih ketika mata tak terbendung lagi oleh secangkir, dua cangkir kopi hitam seperti biasa. Aku rindu pada malam itu, ketika kubasuh wajah dengan butiran lembut yang menghitam legam pada malam. Aku cemburu pada bulan yang beberapa hari ini berkuasa tanpa bintang dan lainnya. Aku sedikit tertampar oleh suasana hati yang terdengar risau.
Ini apa? Aku kepada jumlah tetesan darah yang sengaja juga kusayat sore itu. Aku ingin bertanya pada senja, sedang apa dia di sana? Tidurkah? Siapa yang memeluknya di antara dingin matahari malam? Bukankah harusnya aku yang memakan gelap ketika peluru menghunus mata dan mengecup keningmu?
Sayang, aku cemburu.
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)
Selasa, 17 Januari 2012
Tanggung Jawabkan Rinduku
Ini buat kamu.
Hei, kamu, kan?
Kamu yang di sana, ya, kamu.
Kamu indah, meski sesekali menafsirkan mimpiku dengan, eh, hanya setengah dari mimpiku.
Tanpa kamu, dari mana aku bisa meraih sebuah tanya, bahwa aku harusnya bisa.
Ya, sepucuk amplop hijau berisi beasiswa, itu dari Tuhan, dan lewat semangatmu, kan?
Tanpa kamu, dari mana aku bisa meraih sebuah mimpi, bahwa aku memang bisa.
Bahkan aku tak pernah sebelumnya mencintai dunia menulis, kamu mengenalkannya padaku, dan maaf, aku lebih mencintainya dari padamu, mencintai menulis yang sangat baru untukku.
Minggu, 08 Januari 2012
Ekspresif
Di sana aku sedang berpijak. Di tempat yang kamu bilang pijakan paling nyaman untukmu. Di tempat yang kamu bilang akan kamu kenalkan aku pada ibumu suatu saat nanti jika kamu siap. Maaf, sekali lagi.
Aku patahkan kamu lagi. Aku berhasil mengukir bekas tumpuan kakiku di rumahmu, yang kamu bilang tak akan siap mengajakku bercanda tawa saat ini. Kamu bilang, kelak, lekas, jika memang telah waktunya. Pun aku berhasil meraih kedua tangan kanan orang yang kamu cintai meski kamu beberapa kali dibuatnya memanen air mata. Ini seperti mimpi.
“Saat malam hatimu mencari dalam lelahmu memikirkanku. Namun aku yang ada di sini hanya terdiam dan membayangkan...
Seandainya kudapat menemanimu malam ini hilangkan sepi. Seharusnya ku ada di sisimu dan kuterjaga hingga kau terlelap mimpi...”
(The Titans – Seandainya.mp3)
Aku patahkan kamu, lagi-lagi lagi. Ya, sampai berkali-kali aku berhasil mematahkan satu-per-satu penamu. Ini bukan tanpa alasan. Ini yang harus aku lakukan, kupatahkan satu lalu selanjutnya lagi. Misiku memang itu, mematahkan hingga habis, lalu siap meminangmu di podium pernikahan kita, kelak. J
PS: Maaf mematahkan penamu lagi. Kali ini tintanya membekas di kakiku, dan sengaja kujejakkan di beranda rumahmu.
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)
Selasa, 06 Desember 2011
38 Jam
Untuk 38 jam itu
Aku dan kamu
Aku dan pagi
Aku dan embun
Aku dan sampah
Aku dan dhuha
Aku dan terik
Aku dan siang
Aku dan matahari
Aku dan letih
Aku dan asa
Aku dan sore
Aku dan penat
Aku dan after hour
Aku dan kelam
Aku dan Venus
Aku dan senja
Aku dan jingga
Aku dan kabut
Aku dan dingin
Aku dan beku
Aku dan malam
Aku dan bulan
Aku dan bintang
Aku dan dini hari
Aku dan nol derajat
Aku dan tidur
Aku dan terjaga
Aku dan mimpi
Aku dan kokok
Aku dan subuh
Aku dan fajar
Aku dan embun
Sampai 38 jam berikutnya
PS: Ini hari bahagiaku, namun mungkin bukan untukmu
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2011)
Minggu, 27 November 2011
Titik Lebur Air Mata
Jadi, ini hari burukmu, ya?
Pasti karena aku melantunkan lagu kematian di tiap desir telingamu
Atau karena aku rajin menyapu gembiramu dan membuangnya ke tong sampah?
Mungkin sedikit olesan emosi yang kamu tuangkan dalam madu pagimu
Itu yang sedikit mematikan jera yang kamu rasakan
Ya, jera
Ini pasti hari burukmu
Bisa aku melihatnya dalam tiap detik jalanmu
Pagi
Siang
Sore
Malam
Aku sangat yakin
Ini hari burukmu
Kamu melipat segala senyum di tiap detil tubuhmu
Embun pagi
Matahari siang
Venus sore
Bulan petang
Bintang malam
Ya, di tiap satu momenmu, kamu melenguh sakit
Tapi hanya malam ini, aku bisa merasakan indahnya ungkapanmu
Indah, karena tak pernah semudah biasanya untuk kudapat
Indah, menanti sepanjang hari untuk keluarkan hibahnya
Indah sekali
Hari burukmu,ya?
Dan hari ini aku mulai belajar mencintai malam
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2011)
Selasa, 22 November 2011
Hermeneutika
Harus dijelaskan, ya?
Seberapa dominan rasaku pada embun, seberapa luas lautku untuk pagi?
Harus diteliti, ya?
Seberapa dalam hatiku untuk matahari dhuha, seberapa tinggi pandanganku pada sinarmu?
Semua tak perlu kujabarkan hingga terkemuka beberapa rumus tak penting
Ketika lidah kelu menyapa angin sepoi
Saat itu embun sedang cacat, ia datang dengan pincang lalu tumpang
Tenggelam di antara titik-titik gerimis dingin yang memusingkan ubun-ubun
Lalu masih perlukah untuk kujelaskan naskah di atas penelitian?
Haruskah kujelaskan lagi?
Aku cinta kamu
Titik
Tidak ada penjelasan lagi
PS: Mungkin kausebut rabu itu kulupakan. Namun tak pernah kulupakan di tiap kamis pagi itu, kita.
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2011)
Rabu, 02 November 2011
Seperti Embun, Seperti Matahari
“Kita seperti embun dan matahari, aku menyejukkanmu dan kamu menghangatkan aku. Tidak ada pagi yang cerah tanpa kita.”
Aku mencintaimu, embun
Pagi buta, kaucuri start di saat semua sedang lelap
Telah berkeliaran membasahi daun-daun malam
Menjaga tidur budak-budak bangsa, mungkin mencoba hapus lelah mereka
Bekukan air mata bekas tangis derita penyesalan semalam
Aku rindu Ibu, juga rindu betapa panasnya tempat lahirku
Embun,
Bedakan cuaca dengan tempat lahirku
Embun beku tak lagi sekadar sejuk lalu mematikanku dengan satu rasa
Cinta
Kau mencintaiku, matahari
Seperti pelumpuh dingin di gelap fajar, di tengah subuh saat kaubasuh air wudhu
Setengah dari pagi ini kauhangatkan dengan api besar yang tak tampak hebat
Ya, sangat remeh dan terlihat setitik kuman dari tempat kita berdiri
Jangan remehkan!
Coba saja menatapnya mata telanjang, tak kujamin matamu bertahan hidup-hidup
Segala yang tercipta tumbuh darinya, matahari
Kita berhenti melangkah jika matahari tak berkobar dengan lantang
Matahari,
Aku rindu
Hangat pelumpuh beku tak pernah gagal menorehkan satu rasa
Cinta
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2011)
Senin, 24 Oktober 2011
Sunshine
Matahari memanggil
Sangat hangat membakar mimpi pagi di tengah liur ludah yang tertuang
Aku masih terlelap
Belum ingin terjaga
Lalu matahari memanggil, sekali lagi
Menampik selimut yang sengaja kurapatkan, kuhindari embun
Ya, embun memang jahat, tak pernah mengerti pagiku yang hangat
Matahari, muncul, bangun
Sunshine
Shining
Every single second
When I closed my eyes last night, and I greeted the moon
The moon was smiling to me
Closed my eyes slowly
And I’ve died last night
Ini seakan kehidupan lainku
Kini aku sebagai matahari
Aku
Hangatkan
Someone inside that window...
#np Garasi - Sunshine
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2011)
Sabtu, 09 April 2011
Senyap
Kau tahu?
Bintang sedang terperangkap dan aku tak bisa terlelap dalam gelap.
Dan ketika surya mulai mengerling, mengintip di balik fajar pun mataku akan tetap terjaga sampai kutemui sebuah jawaban dari harapku.
Aku bahkan tak percaya sang surya akan datang esok!
Awan terlalu pekat, mungkin sampai esok pun tetap gelap.
Adakah jawab untuk harap yang tak terungkap, untuk harap yang maya, untuk harap yang bahkan tak mampu kuceritakan saat terang, terlebih lagi saat pekat?
Senin, 20 Desember 2010
Mencoba Berpaling Dari Hujan
Kutengok, satu nol dua, tentu telah larut.
Kuhirup segalanya, mencoba mencari penyegaran pikiran.
Justru aku tak tahu apa yang harus terjadi, aku diam.
Malam bertanya padaku, harusnya aku memang terlelap.
Rabu, 27 Oktober 2010
Aku Datang Karena Mereka Butuh
Awan berpikir, “Ya, matahari memang raja di siang hari. Dan aku selalu hanya terdiam, karena hanya ia yang berkuasa.”
Awan berkata pada hujan, “Hei, aku ingin bermain bersamamu. Namun matahari berkehendak lain. Ia berpikir, siang hari adalah miliknya.” Dengan tenang hujan pun menjawab, “Masih ada waktu.”
Malam hari, awan bertanya pada bulan, “Bolehkah aku memanggil hujan? Aku ingin bermain dengannya.” Bulan pun menjawab, “Kupikir, ini saatnya aku berdiri seorang diri di atas langit. Bukan begitu?”