Selamat pagi, Embun. Cukup lama aku tak menyapamu, mungkin memang lama. Aku sedang sakit dan mungkin memang sedang kritis, aku terancam kehilangan beberapa organ tubuh vitalku; pandanganku mulai kabur dan tak lagi tajam, dokter bilang aku harus mencabut salah satu mataku atau kanker menjalar ke otak lalu aku menjadi mayat hidup; dokter bilang aku sedikit mati rasa, tak bisa lagi merasakan kesensitifan yang digadang-gadang oleh zodiakku sendiri bahwa aku adalah perasa ulung, aku harus mencabut satu-satunya hatiku; aku bahkan hampir tak bisa berpikir sempurna dan kehilangan daya abstraksi padahal ini adalah nilai tertinggi di tes IQ, iya, aku punya daya abstraksi yang terlampau tinggi dan itu hampir mati sekarang, dokter bilang aku harus memusnahkan otakku.
Rabu, 26 Desember 2012
Mayat Hidup
Selamat pagi, Embun. Cukup lama aku tak menyapamu, mungkin memang lama. Aku sedang sakit dan mungkin memang sedang kritis, aku terancam kehilangan beberapa organ tubuh vitalku; pandanganku mulai kabur dan tak lagi tajam, dokter bilang aku harus mencabut salah satu mataku atau kanker menjalar ke otak lalu aku menjadi mayat hidup; dokter bilang aku sedikit mati rasa, tak bisa lagi merasakan kesensitifan yang digadang-gadang oleh zodiakku sendiri bahwa aku adalah perasa ulung, aku harus mencabut satu-satunya hatiku; aku bahkan hampir tak bisa berpikir sempurna dan kehilangan daya abstraksi padahal ini adalah nilai tertinggi di tes IQ, iya, aku punya daya abstraksi yang terlampau tinggi dan itu hampir mati sekarang, dokter bilang aku harus memusnahkan otakku.
Kamis, 01 November 2012
#HaiNovember
![]() |
| "Dropped in the rain." |
"Ini baru memasuki November. Yakin mau segera pulang? Yakin tak mau duduk lagi dan membicarakan hal penting?"
"Apa harus selalu ada akhir pertemuan? Aku mau kamu duduk di sini. Tolong tekan tombol pause-nya, kita ngobrol semau kita."
"Tak akan pernah ada waktu yang kadaluarsa, kan? Waktu memang penipu ulung. Maka dari itu, hentikan sejenak, pegang pundakku."
"Jalani saja jika masih merasa nyaman. Tak perlu terburu-buru berpindah ke scene yang lain jika memang belum perlu."
Minggu, 28 Oktober 2012
Sajak Hujan
![]() |
| "Aku sudah pulang, Hujan.." |
Aku sudah pulang, aku sudah di tanah Surabaya. Aku kembali dengan sengaja melepas seluruh tracking bag bahkan aku datang bertelanjang kaki agar benar-benar steril. Dengan balutan secangkir kopi, sekali lagi kucoba memutar perlahan mesin waktu di tengah kota metropolitan mantan calon ibukota pengganti ini. Taman Bungkul, Balai Pemuda Surabaya, Monumen Bambu Runcing, Jembatan Plasa Surabaya, Makam Cina Kembang Kuning, Lokalisasi Dolly, Kebun Binatang Surabaya, Tunjungan Plaza.
Sabtu, 27 Oktober 2012
Sedang Bermimpi
![]() |
| Lalu muncul album re-arrangement ini |
Kamu nyata, kamu
datang malam ini. Kamu mendengar aku bicara, kamu melihat aku bercakap, kamu
menikmati aku bernyanyi, kamu menadah aku bersandar.
Kamu nyata. Kamu
datang malam ini. Kamu mengenalkan aku pada kumpulan langit malam yang jingga,
pada rumah berdesain benteng kuno, pada jalanan bernama “Seram”, bahkan pada
jalanan parkir yang sering dilanggar pejalan kaki seperti kataku.
Kamu
mengenalkanku di jendela, di ujung sebuah lorong. Kamu memanggil kecil dari
balik luar pintu ruang 211. Dan ketika kubuka, itu kamu, dan kamu nyata.
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)
Senin, 22 Oktober 2012
Resolusi Gelas Kaca
Gelas kaca
berlengan lumpuh pasca berlarian pagi
dengan pujaan
hatinya meskipun tak tersampaikan kekagumannya,
dan dia
berkeringat
Aku memberanikan
diri untuk menyapanya,
dia hanya
tersenyum menyimpulkan balasan
pada paras
lesuku
Aku kasihan
padanya,
tak pernah menyampaikan
gelak rasanya
untuk kagumnya
Aku miris
padanya,
kagumnya hanya
sering berceloteh
tentang kagum
yang lain, bukan padanya
Miris, bukan?
Dan dia semakin
berkeringat,
lambat laun
semakin luluh
dan kemudian
lantah
Namun aku hanya
sedang bercermin
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)
Langganan:
Postingan (Atom)




.jpg)