NOW AVAILABLE! "DIALOG BISU"

Kamis, 01 Maret 2012

Bohong

Aku sayang kamu. Bukan karena kemenanganku atas kepatahanmu yang kubuat, bukan karena pengakuanmu di kabisat kemarin, bukan hanya karena kamu sayang aku.

Aku sayang kamu. Tidak hanya di hari spesial satu tahun pertemuan kita, tidak hanya di momen spesial kita, tidak hanya saat kamu katakan kamu sayang aku.

Aku sayang kamu. Meskipun aku kurang percaya adanya hari spesial yang katanya membahagiakan itu. Ya, selalu berujung kurang memuaskan jika aku menganggapnya hari baik.

Aku sayang kamu. Mungkin harusnya kusamaratakan tiap detik. Mungkin harusnya tidak ada hari spesial, setiap detik dengan kamu itu spesial.


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Rabu, 29 Februari 2012

Kabisat

Kamu kalah! Sudah jauh lebih dalam dari patah. Ya, ada ungkapan lain yang lebih buruk dari itu? Aku, aku orangnya, yang akhirnya mematah-pipihkan semua muasalmu dan berhasil membalikkan kenyataanmu sebagai individualis tertutup dan egois perasa pahlawan perasaan. Semua menjadi antonim di tanganku. Kubalikkan. Aku menang. Kamu patah.

Hari ini, menjelang hari empat tahun sekali, kamu telah menyatakan bahwa akulah pengubahmu, pembalikmu, dan semoga akhirnya nanti aku yang jadi imam atas jalanmu. Tidak ingin mengucapkan selamat? HAHAHAHAHAHA. Aku sayang kamu. J


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Minggu, 26 Februari 2012

Malam Itu Benci

Those are the dew in the midnight, cross over the night city park

You couldn’t find what do you need by your breathin’ in the deep ocean

I’m freezing


Di antara sampah-sampah kota yang katamu tak suka kau lihat, berserakan tak karuan

Lalu pada punkers yang menggodamu saat kau berjalan di tempat yang kauanggap karpet merah

Saat itu yang kaugerutukan adalah salah jalan yang aku pilih, nyatanya kau telah percayakan aku sebagai pemilih jalan kita

Dan di bawah kulit terdapat bekuan kabut duapuluhenam derajat tanpa helai rindu sekalipun

Aku tetap tegak, ya setidaknya kau dorong aku untuk tetap bertahan berdiri


Mata itu lagi

Yang selalu aku agungkan di awal pertemuan itu

Di awal aku mulai membenci malam yang katamu aku bodoh

Yang patut kubenci harusnya pagi, karena pagi yang memisahkan kenangan luar biasa di malam hari

Lalu sekarang, sudah paham bagaimana aku membenci malam?


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Jumat, 24 Februari 2012

Reminder

Aku mati. Semakin lenyap. Dan aku masih telah lebur di dalam matanya yang senja, seperti saat menghirup udara setelah tenggelam di air selama 5 jam tanpa nafas. Nikmat dan lega.
Aku temukan di sana, di mata itu. Cantik sekali seperti gambaran yang tak pernah kukumpulkan untuk dinilai sebagai nilai tugas oleh guru TK. Ya, menurutku memang gambarku yang terbaik meskipun garis hitamnya hampir semua terlindas warna-warna yang kutempatkan secara tidak tepat. Bagiku tetap indah, kan? Tidak ada yang melebihi milikku. Itu yang kutemukan di sana. Di matanya. Kamu.

(Fahmi Rachman Ibrahim, 2012)

Rabu, 22 Februari 2012

Brown Shoes

Everything which I’m looking is fake

Everytime which I’m wasting is fade

Everywhere which I’m going is flat

Everyone who I’m greeting is fool

So, should I still take a breath? I think my leaves had murdered you and your colony. I had sacrified your blood into deep cave, right? What are you looking for?

These were a brown shoes. Brown and dusty. Could you please heal my destiny? I’m afraid that I can’t follow the evils. They were my first believe.

You couldn’t catch the main point, could you? Those are random writing. Random feeling. I need a smog.


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2011)