NOW AVAILABLE! "DIALOG BISU"

Sabtu, 22 Januari 2011

Inilah Pilihan

Hari ini kucoba menulis sebuah perbedaan, mungkin sebuah pilihan.
Bibir tergetar, mengering karena hembusan angin gersang yang membawa debu kesakitan.
Kubasuh wajah dengan air suci, hanya untuk mencari sebuah kedamaian di antara galau yang membantai lumbung tenaga.
Aku terpelanting, terjatuh.
Lalu kucoba bangkit, menggapai sebuah pengorbanan yang berujung kebohongan.
Berlari di antara langit kedurhakaan, hingga terlontar sebuah kutukan kelam.
Gentar, aku terdiam.

Jumat, 21 Januari 2011

Mungkin?

Aku menghela nafas lalu terduduk.
Segalanya mulai meredup, lalu mati.
Tangan dinginku bergetar mengikuti dentuman jantung perlahan, namun semakin berlari kencang tak tentu arah.
Aroma kebencian terhembus saat kupicingkan mata agar sebuah cahaya yang tiba-tiba datang tak menghancurkan kelopakku.
Sangat busuk!

Kamis, 20 Januari 2011

They are the One

Just break the silence after a couple of pigeons go away from the tree.
They’ve flied away onto the dark cloud, but actually we known that couples of pigeons will died.
The dark cloud will explode with a bad storm, and murdered them.
Why did they do that?
Oh, the female pigeon one was very boring with her life, so she tried to kill herself.
The male pigeon one comes and sits next to her, they make a deal.
The male one said, “I’ll died with you.”
“No, I love you, and I don’t want you kill yourself. Stay away from my wings,” the female one screamed.
The clouds, sun, and rain have been looking at them since the pigeons came.
They felt so strained, the rain said, “Love is a murderer, and it will stay beside you. But sometimes, love is like your wings, it will fly around the world together.”
The rain tears down, and the sun shrinks back from the dark cloud.
The pigeons are ready to face their reality.
They promise that they are the one, they are the best thing which will always together whenever.


(Fahmi Rachman Ibrahim, 2011)

Selasa, 18 Januari 2011

Kutadah Peluhnya

Menghirup ketegangan malam, sesak tak bertumpu.
Menderu di antara keramaian, kuningnya lampu perkotaan.
Kulangkahkan dengan berat, terduduk di antara segala harapan perih dan aku adalah aku.
Jalanan yang kering dan hitam kulirik tak bergeming.
Lalu ranting pendosa tergerak, tertiup angin gundah yang menyelimuti mimpi.
Hening sejenak.
Deru itu terdengar kembali dan kacau parau.
Putih terkontaminasi kapuk yang memang menyesakkan nafas, awan tak undang hujan.
Apakah aku?

Jumat, 14 Januari 2011

Bintangku

Ketika kupejamkan mata, berat yang kurasakan.
Pekat, kelam, gundah tak beraturan.
Hati tak pernah kosong, akal pikiran tak berhenti terisi wajahnya.
Ia tertawa, senyuman manis terukir dalam mimpiku.
Lalu kuterjaga, mata terbuka, akal pikirku menuju padanya.
Hujan tak datang hari ini, terik pun tak ada kabar.
Hanya angin sepoi yang menyapaku, sepi.
Bahkan awan legam tak melirikku, acuh.
Sesal? Bukan sesal yang harus kusalahkan.
Cinta? Aku muak mendengarnya.
Aku pun percaya pada sebuah sayang yang tulus, mengalir bagai air yang bahkan tak menyerah meski tertabrak karang.
Aku hanya untuknya, ia adalah aku.
Tak pernah ingin menghapus sebuah senyum, yang ia ukir abadi dalam mata hinaku.
Aku, untuknya.

(Fahmi Rachman Ibrahim, 2011)