NOW AVAILABLE! "DIALOG BISU"

Minggu, 09 Januari 2011

Akulah Sebuah Masa Laluku

Kuteteskan beberapa air mata hina.
Tangisan yang harusnya tak perlu, karena ia tak tahu ini untuknya.
Ya, aku rindu.
Aku rindu tawanya, ingin kugenggam senyumnya.
Tawa yang khas, suara yang yang terduakan, ia seakan tak bisa pergi dari pikiran.
Entah, aku nyaman disampingnya, melebihi sebuah cinta.
Air mata seakan tersapu ringan dengan tawanya.

Selasa, 04 Januari 2011

Pemimpin, Penjual Harapan Kosong

Tersentak melihat sebuah pernyataan.
Perih!
Dasar apa yang kau gunakan?
Semua terdiam, lalu bangkit dan tergerak batinnya untuk berontak.
Pemimpin memang penjual sejuta harapan, namun tak pernah dapat memuaskan mereka.
Kau terduduk nyaman dengan secangkir kopi hitam legam, menghirup asap kepahitan dunia.
Kau luruskan kaki dan tangan, meregangkan otot yang tak kaku.
Sangat nyaman, namun tak memandang apa yang kau duduki.

Minggu, 02 Januari 2011

Zip, Zep, Zop

Ini bukan tentang hujan, namun mengenai kerinduan pada kawan.
Kukenal dia di sebuah sudut ruang.
Kami berkata, “Zip, Zep, Zop.”
Saling menunjuk walau yang terjadi belum ada perkenalan.
Kutelusur segala penjuru, terang benderang tanpa penutup kelam setitik pun.
Terasa nyaman dan sejuk, sekali lagi bukan karena dua puluh empat derajat.
Masih terdiam karena belum ada pembuka, lalu kami memulai.
Berawal dari sebuah konflik ringan hingga tertunduk dan tertawa bersama.
Saat itu kami riang, tertinggal gundah entah ke mana.
Sebuah amanah datang, hingga kami terlibat dalam sebuah tantangan.
Peluh matahari, beku malam hari, semua bukan penghalang.
Amanah suci masih tetap kami jalankan, karena sebuah persatuan yang belum padam.
Kami adalah hebat, dan tak perlu pengakuan bodoh yang membuktikannya.
Segalanya berada dalam hati, persaudaraan dan persahabatan.
Segalanya adalah baik, kami atau selamanya.

(Fahmi Rachman Ibrahim, 2011)

Tamparan Kemunafikan

Hujan tak datang malam itu, saat kulangkahkan kaki ke luar gerbong kereta lima.
Aku berkeliling hampa pada keramaian malam.
Tak tentu arah, tak pernah ada penjemput jiwa.
Heran, hujan tak menyambutku?
Malam ini, waktu yang baru kujalani.
Semua tertawa namun tenggelam dalam kemunafikan nafsu.
Tak pernah lebih baik dari Tuhan, hanyalah kebohongan yang dapat ia serahkan.

Sabtu, 01 Januari 2011

Cahaya Mungil Bidadari

Malam semakin gelap.
Embun pun semakin egois, seakan tak mau mengalah dengan bulan.
Berkumpul, menjadi kabut yang menutupi sinar malam.
Mata mulai berontak.
Ingin melihat bintang, namun terpagar oleh kabut yang memutih seputih kafan yang pucat.
Angin pun menusuk pori-pori kulit.
Mereka berhembus bak penjahat yang ingin membunuh korbannya.
Di tengah keributan malam yang mencekam, ku temukan seberkas cahaya merah jambu.
Cahaya indah, yang menerobos kabut dengan susah payah agar terlihat keindahannya.
Sesaat, cahaya itu menjadi sosok mungil berparas bidadari.
Tanyaku, tipukah ini?
Bukan!
Separuh hatiku berontak.
Lalu menjawab, itu adalah bagian dari separuh hatimu yang hilang.

(Fahmi Rachman Ibrahim, 2011)