Tersentak melihat sebuah pernyataan.
Perih!
Dasar apa yang kau gunakan?
Semua terdiam, lalu bangkit dan tergerak batinnya untuk berontak.
Pemimpin memang penjual sejuta harapan, namun tak pernah dapat memuaskan mereka.
Kau terduduk nyaman dengan secangkir kopi hitam legam, menghirup asap kepahitan dunia.
Kau luruskan kaki dan tangan, meregangkan otot yang tak kaku.
Sangat nyaman, namun tak memandang apa yang kau duduki.
Selasa, 04 Januari 2011
Minggu, 02 Januari 2011
Zip, Zep, Zop
Ini bukan tentang hujan, namun mengenai kerinduan pada kawan.
Kukenal dia di sebuah sudut ruang.
Kami berkata, “Zip, Zep, Zop.”
Saling menunjuk walau yang terjadi belum ada perkenalan.
Kutelusur segala penjuru, terang benderang tanpa penutup kelam setitik pun.
Terasa nyaman dan sejuk, sekali lagi bukan karena dua puluh empat derajat.
Masih terdiam karena belum ada pembuka, lalu kami memulai.
Berawal dari sebuah konflik ringan hingga tertunduk dan tertawa bersama.
Saat itu kami riang, tertinggal gundah entah ke mana.
Sebuah amanah datang, hingga kami terlibat dalam sebuah tantangan.
Peluh matahari, beku malam hari, semua bukan penghalang.
Amanah suci masih tetap kami jalankan, karena sebuah persatuan yang belum padam.
Kami adalah hebat, dan tak perlu pengakuan bodoh yang membuktikannya.
Segalanya berada dalam hati, persaudaraan dan persahabatan.
Segalanya adalah baik, kami atau selamanya.
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2011)
Kukenal dia di sebuah sudut ruang.
Kami berkata, “Zip, Zep, Zop.”
Saling menunjuk walau yang terjadi belum ada perkenalan.
Kutelusur segala penjuru, terang benderang tanpa penutup kelam setitik pun.
Terasa nyaman dan sejuk, sekali lagi bukan karena dua puluh empat derajat.
Masih terdiam karena belum ada pembuka, lalu kami memulai.
Berawal dari sebuah konflik ringan hingga tertunduk dan tertawa bersama.
Saat itu kami riang, tertinggal gundah entah ke mana.
Sebuah amanah datang, hingga kami terlibat dalam sebuah tantangan.
Peluh matahari, beku malam hari, semua bukan penghalang.
Amanah suci masih tetap kami jalankan, karena sebuah persatuan yang belum padam.
Kami adalah hebat, dan tak perlu pengakuan bodoh yang membuktikannya.
Segalanya berada dalam hati, persaudaraan dan persahabatan.
Segalanya adalah baik, kami atau selamanya.
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2011)
Tamparan Kemunafikan
Hujan tak datang malam itu, saat kulangkahkan kaki ke luar gerbong kereta lima.
Aku berkeliling hampa pada keramaian malam.
Tak tentu arah, tak pernah ada penjemput jiwa.
Heran, hujan tak menyambutku?
Malam ini, waktu yang baru kujalani.
Semua tertawa namun tenggelam dalam kemunafikan nafsu.
Tak pernah lebih baik dari Tuhan, hanyalah kebohongan yang dapat ia serahkan.
Aku berkeliling hampa pada keramaian malam.
Tak tentu arah, tak pernah ada penjemput jiwa.
Heran, hujan tak menyambutku?
Malam ini, waktu yang baru kujalani.
Semua tertawa namun tenggelam dalam kemunafikan nafsu.
Tak pernah lebih baik dari Tuhan, hanyalah kebohongan yang dapat ia serahkan.
Sabtu, 01 Januari 2011
Cahaya Mungil Bidadari
Malam semakin gelap.
Embun pun semakin egois, seakan tak mau mengalah dengan bulan.
Berkumpul, menjadi kabut yang menutupi sinar malam.
Mata mulai berontak.
Ingin melihat bintang, namun terpagar oleh kabut yang memutih seputih kafan yang pucat.
Angin pun menusuk pori-pori kulit.
Mereka berhembus bak penjahat yang ingin membunuh korbannya.
Di tengah keributan malam yang mencekam, ku temukan seberkas cahaya merah jambu.
Cahaya indah, yang menerobos kabut dengan susah payah agar terlihat keindahannya.
Sesaat, cahaya itu menjadi sosok mungil berparas bidadari.
Tanyaku, tipukah ini?
Bukan!
Separuh hatiku berontak.
Lalu menjawab, itu adalah bagian dari separuh hatimu yang hilang.
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2011)
Embun pun semakin egois, seakan tak mau mengalah dengan bulan.
Berkumpul, menjadi kabut yang menutupi sinar malam.
Mata mulai berontak.
Ingin melihat bintang, namun terpagar oleh kabut yang memutih seputih kafan yang pucat.
Angin pun menusuk pori-pori kulit.
Mereka berhembus bak penjahat yang ingin membunuh korbannya.
Di tengah keributan malam yang mencekam, ku temukan seberkas cahaya merah jambu.
Cahaya indah, yang menerobos kabut dengan susah payah agar terlihat keindahannya.
Sesaat, cahaya itu menjadi sosok mungil berparas bidadari.
Tanyaku, tipukah ini?
Bukan!
Separuh hatiku berontak.
Lalu menjawab, itu adalah bagian dari separuh hatimu yang hilang.
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2011)
Sabtu, 25 Desember 2010
Enyahlah Aku!
Jantung tersentak dan menjerit saat mendengar guntur menderu pada bumi.
Kukira ia memang sedang marah, atau gundah?
Terpikir segala kemunafikan yang kulihat pada paras-paras di hadapanku, seakan tertawa namun yang terjadi sedang gundah.
Sangat pandai memendam kegalauan hati dengan dua wajah berbeda, namun tetap satu jiwa.
Kupelajari raut mereka, kerut di kening pun meliuk tersentuh rintikan air hujan yang bercampur dengan peluh lari.
Heran, ada apa dengan mereka?
Kukira ia memang sedang marah, atau gundah?
Terpikir segala kemunafikan yang kulihat pada paras-paras di hadapanku, seakan tertawa namun yang terjadi sedang gundah.
Sangat pandai memendam kegalauan hati dengan dua wajah berbeda, namun tetap satu jiwa.
Kupelajari raut mereka, kerut di kening pun meliuk tersentuh rintikan air hujan yang bercampur dengan peluh lari.
Heran, ada apa dengan mereka?
Langganan:
Postingan (Atom)