Sangat lega, nafas yang terhimpit rindu kini terobati.
Meski tubuh tak sesempurna hari lalu, kukorbankan demi bertatap muka dengan mereka.
Dan aku sempat merindukan hujan.
Hujan datang menyambutku yang menginjak tanah kelahiran, seperti biasa.
Kulangkahkan kaki memasuki rumah merah jambu.
Kuraih lengan yang masih utuh, kucium dengan isak tangis.
Sedikit kulirik, lengan lainnya masih belum kembali.
Penat lenyap, melarikan diri ke sisi lain bumi.
Aku mulai sempurna, kuletakkan ransel hitam yang penuh dengan beban masalah.
Hujan masih merintik perlahan.
Kuhabiskan malam ini dengan mereka, aku puas.
Tak bisa berkata banyak, namun yang mampu hanya linangan air mata.
Hidup sempurna karena mereka.
Ya, sempurna seperti mata mereka.
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2010)
Rabu, 22 Desember 2010
Selasa, 21 Desember 2010
Terikat Penat
Kuterkapar di keheningan malam, mata terkunci oleh penat yang mengikat sekujur tubuh.
Akal dan organ tubuh berantakan, kacau.
Terpikir, tak sadar kuterjatuh di kesunyian malam, meremukkan lengan.
Terpikir, noda hitam, kelam, dan jahat yang mencoreng sebuah kisahku.
Terpikir, sebuah serpihan hati yang tercecer, mungkin lenyap karena dunianya.
Terpikir, materi dan dunia yang seakan membunuh pikiran.
Akal dan organ tubuh berantakan, kacau.
Terpikir, tak sadar kuterjatuh di kesunyian malam, meremukkan lengan.
Terpikir, noda hitam, kelam, dan jahat yang mencoreng sebuah kisahku.
Terpikir, sebuah serpihan hati yang tercecer, mungkin lenyap karena dunianya.
Terpikir, materi dan dunia yang seakan membunuh pikiran.
Senin, 20 Desember 2010
Kuyakin Mereka Terbaik
Aku terduduk di samping kubangan ikan, mereka melihatku seakan meminta makan.
Aku hanya tersenyum, lalu kumainkan airnya dengan tiga jari.
Mereka pun terhibur, meski kutahu mereka lapar, tak ada yang dapat dengarkan jeritan itu.
Aku memalingkan pandangan menuju beberapa kawan.
Sempat berpikir segalanya sangat kacau.
Mereka terbahak-bahak, memang lucu.
Namun harusnya tak seperti ini, aku hanya ingin terjadi sebuah introspeksi.
Aku berusaha menghibur diri, karena tak ada penghiburku layaknya ikan yang kutemui.
Sejenak kutatap jauh ke cahaya mata mereka.
Ya, kuyakin mereka tahu apa arti hujan, yang tahu kapan saat yang tepat.
Namun hujan tak datang.
Meski begitu, mereka akan tampilkan yang terbaik untuknya.
Hujan hanya dapat melihat dari kejauhan angkasa, dan hujan tersenyum, puas.
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2010)
Aku hanya tersenyum, lalu kumainkan airnya dengan tiga jari.
Mereka pun terhibur, meski kutahu mereka lapar, tak ada yang dapat dengarkan jeritan itu.
Aku memalingkan pandangan menuju beberapa kawan.
Sempat berpikir segalanya sangat kacau.
Mereka terbahak-bahak, memang lucu.
Namun harusnya tak seperti ini, aku hanya ingin terjadi sebuah introspeksi.
Aku berusaha menghibur diri, karena tak ada penghiburku layaknya ikan yang kutemui.
Sejenak kutatap jauh ke cahaya mata mereka.
Ya, kuyakin mereka tahu apa arti hujan, yang tahu kapan saat yang tepat.
Namun hujan tak datang.
Meski begitu, mereka akan tampilkan yang terbaik untuknya.
Hujan hanya dapat melihat dari kejauhan angkasa, dan hujan tersenyum, puas.
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2010)
Mencoba Berpaling Dari Hujan
Aku masih tenggelam dalam asaku.
Kutengok, satu nol dua, tentu telah larut.
Kuhirup segalanya, mencoba mencari penyegaran pikiran.
Justru aku tak tahu apa yang harus terjadi, aku diam.
Malam bertanya padaku, harusnya aku memang terlelap.
Kutengok, satu nol dua, tentu telah larut.
Kuhirup segalanya, mencoba mencari penyegaran pikiran.
Justru aku tak tahu apa yang harus terjadi, aku diam.
Malam bertanya padaku, harusnya aku memang terlelap.
Minggu, 19 Desember 2010
Aku Adalah Hujan
Saat bulan membusungkan dada di waktunya, terkadang aku iri.
Matahari sangat mengerti keadaannya, ia mengalah pada bulan karena ini bukan waktunya, namun bulan.
Matahari pun termenung, terbungkam awan kelabu yang mencoba menenggelamkannya dari pandangan segala makhluk.
Terkadang, aku ingin menjadi hujan, yang bisa datang kapan saja dari langit, tanpa menunggu waktu seperti matahari dan bulan.
Jika aku adalah hujan, aku akan datang kapan pun menghibur tanah yang kering, tanaman yang haus, atau hewan yang gerah.
Aku terbungkam oleh keheningan di depan buku ini.
Aku merindukannya, mungkin ia lupa bahwa aku adalah hujan yang selalu datang kapan pun untuk membasahi permukaan bumi, yang kapan pun bumi butuhkan.
Namun aku tak pernah lengah, aku hanya ingin apa yang terbaik.
Mungkin salah jika aku mencoretnya dari akal pikiranku, mungkin memang sebuah keegoisan hujan yang harusnya bisa datang kapan pun.
Aku masih berusaha berpikir, harusnya aku pun tahu, bahwa awanlah sahabat terbaik hujan.
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2010)
Matahari sangat mengerti keadaannya, ia mengalah pada bulan karena ini bukan waktunya, namun bulan.
Matahari pun termenung, terbungkam awan kelabu yang mencoba menenggelamkannya dari pandangan segala makhluk.
Terkadang, aku ingin menjadi hujan, yang bisa datang kapan saja dari langit, tanpa menunggu waktu seperti matahari dan bulan.
Jika aku adalah hujan, aku akan datang kapan pun menghibur tanah yang kering, tanaman yang haus, atau hewan yang gerah.
Aku terbungkam oleh keheningan di depan buku ini.
Aku merindukannya, mungkin ia lupa bahwa aku adalah hujan yang selalu datang kapan pun untuk membasahi permukaan bumi, yang kapan pun bumi butuhkan.
Namun aku tak pernah lengah, aku hanya ingin apa yang terbaik.
Mungkin salah jika aku mencoretnya dari akal pikiranku, mungkin memang sebuah keegoisan hujan yang harusnya bisa datang kapan pun.
Aku masih berusaha berpikir, harusnya aku pun tahu, bahwa awanlah sahabat terbaik hujan.
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2010)
Langganan:
Postingan (Atom)