Atap tinggalku berderu, tertiup angin kacau yang tak permisi.
Hujan, kali ini datang bersamanya, namun ia terlihat marah.
Aku belum sadar apa yang dimintanya.
Kucari tahu, gagal.
Kukira Sang Pencipta sedikit beramarah sehingga hujan pun ikut perintah-Nya.
Aku bertengadah, aku mencoba bertanya pada-Nya.
Mungkin Ia sedikit marah.
Rabu, 15 Desember 2010
Minggu, 12 Desember 2010
Syair Rindu Untuknya
Terik yang kurasakan memang beda, hawa dingin masih menusuk.
Pagi yang diawasi oleh sang surya terlihat sangat cerah.
Aku melengok ke luar kamar, menuju balkon.
Kuhirup aroma kerinduan hingga ke lubuk hati.
Kusorot awan dengan tatapan sipit, terbentuk wajah mereka, mereka yang telah membuatku seperti ini, mereka yang telah menghapus segala peluh di dahiku.
Pagi yang diawasi oleh sang surya terlihat sangat cerah.
Aku melengok ke luar kamar, menuju balkon.
Kuhirup aroma kerinduan hingga ke lubuk hati.
Kusorot awan dengan tatapan sipit, terbentuk wajah mereka, mereka yang telah membuatku seperti ini, mereka yang telah menghapus segala peluh di dahiku.
Kuingin Lewatkan Halaman Itu
Musim mencoba berganti, karena sang surya ingin mendominasi di atas awan.
Kemarau yang sempat datang tak digubris oleh hujan yang tetap turun.
Manusia mencoba berpikir, apa yang harus dilakukan saat hujan turun, meski harusnya tak turun.
Hujan bukan ingin mengalahkan matahari, namun hanya ingin melihat bumi-Nya selalu segar.
Kulangkahkan perlahan menuju harapan, mencoba berpikir ke depan.
Kemarau yang sempat datang tak digubris oleh hujan yang tetap turun.
Manusia mencoba berpikir, apa yang harus dilakukan saat hujan turun, meski harusnya tak turun.
Hujan bukan ingin mengalahkan matahari, namun hanya ingin melihat bumi-Nya selalu segar.
Kulangkahkan perlahan menuju harapan, mencoba berpikir ke depan.
Sabtu, 11 Desember 2010
Air Asing, Merah Legam
Gelap, mungkin aku tersesat dalam kegalauan pikiran yang selalu memaksa hidup.
Kucari segala kebaikan, kukerahkan segala semangat, menyusun seperti semula.
Tubuh batang lidi yang kumiliki terlontar karena kejutnya.
Seakan tak pernah berpikir sejauh apa yang hujan jatuhkan ke bumi, air darah!
Merah, pucat, kental, aku sangat tak nyaman dengan kedatangannya.
Kucari segala kebaikan, kukerahkan segala semangat, menyusun seperti semula.
Tubuh batang lidi yang kumiliki terlontar karena kejutnya.
Seakan tak pernah berpikir sejauh apa yang hujan jatuhkan ke bumi, air darah!
Merah, pucat, kental, aku sangat tak nyaman dengan kedatangannya.
Rabu, 08 Desember 2010
Hanya Untukmu
Kudengar teriakannya, teriakan hujan yang tak didengar siapapun.
Gemuruh mereka berdatangan ramai.
Petir yang setia menemani di tiap awal kedatangannya, selalu menjadi pembuka.
Hujan sempat tak membasahi permukaan bola dunia.
Hujan sempat membuat makhluk paling sempurna merindukannya.
Ia absen memasuki hati kecil manusia yang pernah cinta padanya.
Ia mencoba kembali, mengobati pilu yang berkeluh asa.
Mencoba menghibur, kembali seperti saat pertama kali menitikkan airnya di bumi.
Namun hujan tak mengerti, yang dilakukannya tak sepenuhnya kembali.
Sempat menyakiti ulu hati, perih.
Hujan pun bertanya, “Aku adalah dulu, yang indah. Adakah sayatan hati untukmu?”
“Aku hanya ingin sebuah senyuman, yang kulihat saat aku pertama kali menitikkan airku.”
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2010)
Gemuruh mereka berdatangan ramai.
Petir yang setia menemani di tiap awal kedatangannya, selalu menjadi pembuka.
Hujan sempat tak membasahi permukaan bola dunia.
Hujan sempat membuat makhluk paling sempurna merindukannya.
Ia absen memasuki hati kecil manusia yang pernah cinta padanya.
Ia mencoba kembali, mengobati pilu yang berkeluh asa.
Mencoba menghibur, kembali seperti saat pertama kali menitikkan airnya di bumi.
Namun hujan tak mengerti, yang dilakukannya tak sepenuhnya kembali.
Sempat menyakiti ulu hati, perih.
Hujan pun bertanya, “Aku adalah dulu, yang indah. Adakah sayatan hati untukmu?”
“Aku hanya ingin sebuah senyuman, yang kulihat saat aku pertama kali menitikkan airku.”
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2010)
Langganan:
Postingan (Atom)