Nafasku sedikit terengah, jari-jari kakiku tak mau berlari lagi.
Namun hatiku berkata, aku harus tetap melangkah, aku merindukannya.
Ya, tujuh hari tak kudapati hujan menitikkan airnya.
Selama itu pula aku terduduk di balkon lantai dua rumahku, menanti datangnya.
Di mana kau? Mungkinkah ia mengerti bahwa aku berat tak bertemu dengannya?
Penantian itu tak sia-sia. Siang ini, ia kembali.
Ia kembali menitikkan airnya, deras, mengguyur tanah yang haus setelah dihantam hangatnya matahari.
Mungkin sedikit kesal, karena ia datang tanpa kabar. Namun aku puas.
Hujan mengobati sedikit lukaku, sedikit.
Tak pernah ada yang tahu perut terasa terkoyak, mungkin karena angin yang berusaha menyita perhatianku, menggantikan peran hujan yang sangat berarti untukku.
Namun aku tak dapat berpindah, hujan tetap yang terindah.
Ya, aku bahagia.
Hujan menemaniku, menggantikan mereka yang tak bisa kutemani karena jarak ini.
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2010)
Selasa, 16 November 2010
Rabu, 10 November 2010
Bukan Saatnya Untuk Berhenti
Air mata menemani malam ini, aku tersentak tak karuan.
Sempat berpikir, apa bola dunia berhenti menggelinding?
Matahari pun memaksa hujan berhenti meneteskan air, karena matahari tak mau bumi dibanjiri bencana.
Hujan pun menangis, ia memohon pada matahari, ia berkata, “Asalkan hutan tak gundul, air-airku tak akan membanjiri bumi, percayalah.”
Sempat berpikir, apa bola dunia berhenti menggelinding?
Matahari pun memaksa hujan berhenti meneteskan air, karena matahari tak mau bumi dibanjiri bencana.
Hujan pun menangis, ia memohon pada matahari, ia berkata, “Asalkan hutan tak gundul, air-airku tak akan membanjiri bumi, percayalah.”
Sabtu, 06 November 2010
Tusukan di Hari yang Indah
Huft, aku menghela nafas sejenak, mencoba memutar kejadian hari ini.
Ya, hujan menemaniku bersamanya.
Hujan adalah hal romantis jika sedang bersama pasangan, benarkah? Dengan yakin aku menjawab, ya.
Sedikit menggigil diterpa angin yang bersatu dengan butiran hujan, namun semua terasa indah dengannya. Mungkin kata-kata yang tertulis terlalu hiperbola, namun jika kutemukan ungkapan lain, akan kuungkapkan jika sanggup.
Senang. Bahagia. Dan bangga.
Satu hal, sedikit terasa sakit. Oh, bukan, aku tak mau hari ini menjadi buruk. Kutemukan sedikit tusukan pada salah satu tulang dekat hati.
Tidak, aku mencoba menghilangkan luka kecil itu. Memang sedikit rumit, namun aku bisa.
Ya, karena aku tak ingin hari indah menjadi kacau.
Meski sedikit tertusuk, kucoba menatap jauh mata kecilnya. Darah tusukan pun hilang, sembuh.
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2010)
Ya, hujan menemaniku bersamanya.
Hujan adalah hal romantis jika sedang bersama pasangan, benarkah? Dengan yakin aku menjawab, ya.
Sedikit menggigil diterpa angin yang bersatu dengan butiran hujan, namun semua terasa indah dengannya. Mungkin kata-kata yang tertulis terlalu hiperbola, namun jika kutemukan ungkapan lain, akan kuungkapkan jika sanggup.
Senang. Bahagia. Dan bangga.
Satu hal, sedikit terasa sakit. Oh, bukan, aku tak mau hari ini menjadi buruk. Kutemukan sedikit tusukan pada salah satu tulang dekat hati.
Tidak, aku mencoba menghilangkan luka kecil itu. Memang sedikit rumit, namun aku bisa.
Ya, karena aku tak ingin hari indah menjadi kacau.
Meski sedikit tertusuk, kucoba menatap jauh mata kecilnya. Darah tusukan pun hilang, sembuh.
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2010)
Hujan Menemaniku
Sebagian orang berkata, “Ah hujan datang lagi.”
Lalu orang lain menanggapi, “Ya, ini musim kemarau. Mengapa egois sekali hujan tetap turun?”
Hujan bukan tak mendengar keluhan-keluhan itu. Hujan sangat mengerti, namun ia turun ke bumi atas perintah dari awan. Awan bukan tak memahami jeritan-jeritan itu. Awan hanya sedang penuh, maka ia tumpahkan titik demi titik, yang bersatu menjadi hujan.
Tumbuhan hijau girang. Namun tak semua, terkadang ada yang tenggelam hingga mati. Buruh tani yang susah payah dan berpeluh mencoba membangun kehidupan padi, beberapa sempat terendam.
Sekarang siapa yang bingung? Hujan datang mereka berteriak repot. Hujan hilang mereka berteriak haus. Tuhan hanya tersenyum, seakan mengerti makhluk-makhlukNya sedang gusar.
Hidup selalu memiliki pilihan, dan tak selalu menguntungkan.
Hujan memang sempat menyulut api amarahku. Namun hujanlah yang menemaniku sampai di kampung halamanku.
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2010)
Lalu orang lain menanggapi, “Ya, ini musim kemarau. Mengapa egois sekali hujan tetap turun?”
Hujan bukan tak mendengar keluhan-keluhan itu. Hujan sangat mengerti, namun ia turun ke bumi atas perintah dari awan. Awan bukan tak memahami jeritan-jeritan itu. Awan hanya sedang penuh, maka ia tumpahkan titik demi titik, yang bersatu menjadi hujan.
Tumbuhan hijau girang. Namun tak semua, terkadang ada yang tenggelam hingga mati. Buruh tani yang susah payah dan berpeluh mencoba membangun kehidupan padi, beberapa sempat terendam.
Sekarang siapa yang bingung? Hujan datang mereka berteriak repot. Hujan hilang mereka berteriak haus. Tuhan hanya tersenyum, seakan mengerti makhluk-makhlukNya sedang gusar.
Hidup selalu memiliki pilihan, dan tak selalu menguntungkan.
Hujan memang sempat menyulut api amarahku. Namun hujanlah yang menemaniku sampai di kampung halamanku.
(Fahmi Rachman Ibrahim, 2010)
Selasa, 02 November 2010
Karena Ku Punya Kau
Kepada kupu-kupu, hujan bertanya tentang sebuah ketenangan.
Kupu-kupu menjawab, “Aku tenang karena aku hidup untuk diriku sendiri.”
Kepada kunang-kunang, hujan bertanya tentang sebuah kenyamanan.
Kunang-kunang menjawab, “Aku tak punya beban, hanya bermain dengan ekorku saat gelap menyapa.”
Kepada anak serigala, hujan menyapa tentang keamanan.
Anak serigala menjawab, “Orang tua ku belum pernah gagal menjagaku. Mereka hebat.”
Kupu-kupu menjawab, “Aku tenang karena aku hidup untuk diriku sendiri.”
Kepada kunang-kunang, hujan bertanya tentang sebuah kenyamanan.
Kunang-kunang menjawab, “Aku tak punya beban, hanya bermain dengan ekorku saat gelap menyapa.”
Kepada anak serigala, hujan menyapa tentang keamanan.
Anak serigala menjawab, “Orang tua ku belum pernah gagal menjagaku. Mereka hebat.”
Langganan:
Postingan (Atom)